Category Archives: Ibrani 13

Pernikahan itu kehormatan (Ibrani 13:4) atau harus dihindari (1 Korintus 7:28)?

Tema: Pernikahan itu kehormatan (Ibrani 13:4) atau harus dihindari (1 Korintus 7:28)? Begitulah pertanyaan perangkap yang kadang kita dengar. Jawaban pertanyaan ini mudah, karena memang dasarnya hanyalah plesetan interpretasi ayat Alkitab saja.

Tanya

Pernikahan adalah suatu kehormatan (Ibrani 13:4) ataukah sesuatu yang mestinya dihindari sebab akan menyusahkan (1 Korintus 7:28)?

Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah. (Ibrani 13:4)

Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. (1 Korintus 7:28)

Mengapa kedua ayat itu berkontradiksi?

Jawab

Kedua ayat tersebut nampak seolah-olah kontradiksi karena anda hanya membaca sepenggal dari 1 Korintus 7:28. Sebenarnya kedua ayat tersebut sama sekali tidak berkontradiksi.

A. 1 Korintus 7:26-28 tentang pernikahan dalam situasi gawat darurat

Silahkan baca dari 1 Korintus 7:26-28, agar terlihat jelas bahwa kedua ayat tersebut tidak saling berkontradiksi.

bukan lagi dua, melainkan sudah jadi satu

Bukan lagi dua, melainkan sudah jadi satu.

  1. Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.
  2. Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang!
  3. Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. (1 Korintus 7:26-28)

Perhatikan klausa “mengingat waktu darurat sekarang” pada ayat 1 Korintus 7:26. Saran yang diberikan Paulus dalam 1 Korintus 7:26-28 adalah saran untuk kondisi darurat pada masa itu.

Kondisi darurat apakah yang dialami oleh umat Al Masih di kota Korintus pada abad 1 Masehi?

Umat Al Masih diburu untuk dibunuhi. Mereka menjadi umatunderground atau undercover. Bila seseorang ketahuan pemerintah Roma sebagai pengikut Al Masih, maka mereka akan dibantai habis, setelah disiksa sepuasnya oleh para prajurit Roma, sebelum akhirnya dibunuh. Ini menyebabkan mereka berada dalam situasi darurat. Situasi darurat itu menjadi konteks yang melatarbelakangi perkataan Paulus pada 1 Korintus 7:26-28.

“Kesusahan badani” pada ayat 28 bukan lah hamil dan melahirkan anak, sebab kata-kata itu ditujukan untuk pria dan wanita pada kalimat-kalimat sebelumnya. Ini masih berkaitan dengan situasi darurat yang dituliskan pada ayat 26. Kesusahan badani ini nampaknya berkaitan dengan penderitaan fisik bila tertangkap oleh pasukan Romawi.

Sikap Paulus mengenai menikah dan tidak menikah pada masa darurat terlihat pada 1 Korintus 7:38.

ωστε και ο εκγαμιζων καλως ποιει ο δε μη εκγαμιζων κρεισσον ποιει

ōste kai ho eknamizōn kalōs poiī ho de mē eknamizōnkrīsson poiī (1 Korintus 7:38)

Dalam bahasa Yunani, kata κρεισσον ‘krīsson’ bukan bentuk komparatif dari kata καλως ‘kalōs’. Bentuk komparatif dari kata καλως ‘kalōs’ adalah καλύτερος ‘kaluteros’. Kata κρεισσον ‘krīsson’ dan kata καλύτερος ‘kaluteros’ sama-sama diterjemahkan dengan kata “lebih baik” (bhs Indonesia) atau “better” (bhs Inggris), sehingga kita perlu melihat ke bahasa asli untuk tahu maksudnya.

Karena kata κρεισσον ‘krīsson’ bukan bentuk komparatif dari kata καλως ‘kalōs’, maka 1 Korintus 7:38 tidak bermakna “tidak menikah lebih baik daripada menikah”. Kata κρεισσον ‘krīsson’ adalah bentuk lain dari kata κρειττον ‘krītton’. Kata κρειττον ‘krītton’ bermakna: lebih baik, lebih kuat, lebih berguna, lebih bermanfaat, lebih menguntungkan, lebih tinggi, lebih mulia. Karena kata κρεισσον ‘krīsson’ adalah bentuk lain dari kata κρειττον ‘krītton’, maka kata κρεισσον ‘krīsson’ bermakna lebih baik dalam nuansa makna lebih menguntungkan (dalam kaitannya dengan situasi darurat pada ayat 26). Dengan mengetahui konteks tersebut, maka terjemahan 1 Korintus 7:38 jadi lebih mudah dipahami, yaitu:

ωστε και ο εκγαμιζων καλως ποιει ο δε μη εκγαμιζων κρεισσον ποιει

ōste kai ho eknamizōn kalōs poiī ho de mē eknamizōnkrīsson poiī

Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin dengan gadisnya berbuat lebih menguntungkan. (1 Korintus 7:38)

Dengan begitu, dalam situasi darurat saat itu, menikah adalah hal baik dan benar (καλως ‘kalōs’), tapi tidak menikah lebih menguntungkan, bagi yang memang punya kemampuan untuk itu (ayat 36). Sementara bagi yang tidak punya kemampuan untuk itu, Paulus menganjurkan agar mereka menikah, meski saat itu situasi darurat.

Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawindaripada hangus karena hawa nafsu. (1 Korintus 7:9)

1 Korintus 7:26-28, 38 membahas mengenai pernikahan dalam situasi sosial-politik darurat yang dialami oleh umat Al Masih.

Pernikahan dalam situasi darurat:

  • Menikah itu baik dan benar
  • Bagi yang mampu untuk tidak menikah, tidak menikah adalah lebih menguntungkan dalam situasi darurat. Ini nampaknya berkaitan dengan mobilitas gerakan umat Al Masih secara diam-diam dan keamanannya. Lebih mudah untuk mengamankan diri sendiri daripada satu keluarga
  • Bagi yang tidak mampu untuk tidak menikah, lebih baik menikah, agar tidak “terbakar” hawa nafsu.

B. Ibrani 13:4 tentang perselingkuhan agar jangan dilakukan

Ibrani 13:4 membahas mengenai perselingkuhan, yaitu suami-istri dilarang berselingkuh.

Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah. (Ibrani 13:4)

Orang yang sudah menikah hendaknya jangan selingkuh dengan wanita lain, baik dengan pelacur (sundal) maupun wanita pezinah. Perselingkuhan adalah tindakan yang tidak menaruh hormat terhadap perkawinan (pernikahan).

Ibrani 13:4 membahas mengenai perselingkuhan. Ibrani 13:4 tidak mengatakan bahwa pernikahan adalah suatu kehormatan. Ayat itu memerintahkan agar orang menghormati pernikahan. Kalimat “hendaklah kamu menghormati pernikahan” berbeda makna dengan kalimat “pernikahan adalah kehormatan”. Kalimat “hendaklah kamu menghormati pernikahan” mengimplikasikan larangan jangan selingkuh, seperti yang diterangkan pada klausa kedua dari ayat tersebut.

C. Dusta para ahli fitnah religius

1 Korintus 7:26-28 sering dikontrakan dengan Ibrani 13:4 oleh para ahli fitnah religius yang entah mengapa begitu anti terhadap Alkitab firman Allah, sehingga memberi kesan kedua ayat itu seolah-olah benar-benar bertentangan. Padahal, bila kita memahami kedua ayat tersebut dengan baik, maka sama sekali tidak ada kontradiksi di antara keduanya, sebab topiknya berlainan. Tindakan “mengadu domba” ayat-ayat Allah tersebut hanya mampu membohongi orang-orang yang buta Alkitab, tapi tipuan sederhana demikian mustahil dapat menipu umat Allah yang memahami kedua ayat tersebut dengan baik. Jadi, mari kita belajar Alkitab dengan baik, agar tidak mudah disesatkan oleh guru-guru palsu anti Injil tersebut.

D. Simpulan

  1. 1 Korintus 7:26-28 berbicara mengenai pernikahan dalam kondisi darurat
  2. Ibrani 13:4 berbicara mengenai jangan selingkuh.
  3. Kedua ayat yang berbicara mengenai topik yang berbeda tersebut diadudomba. Tentu saja tidak cocok, tidak pas, dan tidak nyambung, karena memang topiknya lain.
  4. Semakin kita memahami Alkitab, maka semakin nampak dusta dan fitnah bohong dari para guru relijius palsu itu.

Kata kunci: pernikahan dalam Alkitab, larangan perselingkuhan dalam Alkitab