Category Archives: Kejadian 49

Bukti pertobatan Yehuda dan berkat yang menyertainya

Tema: membuktikan bahwa Yehuda betul-betul bertobat dan pertobatan Yehuda yang sungguh-sungguh tersebut mendatangkan berkat yang sangat besar dari Allah

Tanya

Dari tulisan anda diatas, Yehuda belum dikatakan bertobat, ayat yang dijadikan alasan anda boleh jadi baru pada tahap pengakuan atau penyesalan (Kejadian 38:26), sementara riilnya sama sekali belum diwujudkan oleh Yehuda. Terpaksa atau tidak harus diakui karena buktinya sangat jelas tidak bisa disembunyikan lagi.

Selain dosa berjinah (Sex), ada dua dosa/kesalahan yang dilakukan Yehuda:

  1. Yehuda berjanji kepada Tamar akan menikahkannya dengan Shela anaknya, sehingga membuat Tamar merasa dendam dan melakukan tipu muslihat menjerat Yehuda. Dosa tidak menepati janji.
  2. Tidak jadi membakar Tamar (Kejadian 38:24) hanya karena setelah tahu yang berbuat adalah dirinya. Dosa tidak melaksanakan lisannya sendiri.

Tambahan Dosa ada 2 macam

  1. Dosa terhadap Tuhan, cukup bertobat seperti uraian anda diatas.
  2. Dosa terhadap sesama manusia tidak cukup bertobat seperti uraian anda diatas. Selain bertobat kepada Tuhan harus meminta maaf kepada sesama manusia lagi. Kalau tidak, belum dikatakan bertobat. Contohnya dosa janji Yehuda terhadap Tamar untuk menikahkannya dengan Shela anaknya. Akibatnya satu dosa melahirkan dosa-dosa yang lainnya.

Jawab

A. Pengertian tobat menurut Anda

Pengertian tobat yang lebih mengutamakan lisan alih-alih perbuatan itu bukan pengertian tobat menurut Alkitab.

Mungkin Anda terbayang dengan “maaf” ala perayaan Idul Fitri dimana satu hari setelah lisannya mengucapkan maaf kembali bikin ulah yang sama, begitu terus selama bertahun-tahun. Sebelum idul fitri ledakin petasan bikin orang jantungan. Lalu minta maaf. Sekeluar dari rumah orang yang dimintai maaf, ledakin petasan lagi…. masih ditambah tahun depan diulang lagi dan terus diulang lagi.

Hal semacam ini tidak dihitung tobat menurut Alkitab. Kenapa? Sebab cuma mulut, di waktu-waktu kemudian terus diulang lagi dan diulang lagi.

Atau mungkin Anda terbayang tentang kisah Haji Meong? Hal semacam yang dikisahkan dalam anekdot Haji Meong juga bukan pertobatan menurut Alkitab.

B. Pengertian tobat menurut Alkitab

Tobat adalah membalikkan badan dan kembali ke jalan yang benar (Tuhan). Tobat menurut Alkitab substansinya bukan lisan, tapi perubahan hidup. Bila perubahan hidup tersebut kemudian diekspresikan dengan lisan, maka itu tambahan, tapi bila tidak diikuti dengan lisan (misal orangnya bisu, pendiam, kurang mampu berkomunikasi, dan sebagainya), maka tidak ada ucapan lisan tidak berarti tidak bertobat.

Dalam Matius 21:28-32, Isa mengisahkan tentang orang yang mulutnya berkata “tidak” kepada firman Allah. Lalu ia bertobat dan pertobatan itu wujudnya adalah melakukan firman Allah.

28 “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.

29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.

30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (Matius 21:28-32)

Inti dari pertobatan menurut Alkitab adalah perubahan hidup: membalikkan badan dan kembali ke jalan yang benar.  Tentang tobat silahkan kembali simak dalam posting “Pengertian Tobat Menurut Alkitab”.

C. Apakah Yehuda bertobat menurut Alkitab

Apakah Yehuda mengatakan dengan lisan bahwa dirinya salah? Ya.

Yehuda sudah mengatakan bahwa dirinya tidak benar. Pengakuan terhadap dosa itu mencerminkan pertobatan terjadi dalam dirinya. Dengan mengakui dosa, maka Yehuda membalikkan badan dan kembali ke jalan yang benar.

Pertimbangkan pula kedudukan sosial Yehuda itu tinggi dalam klan tersebut, sedangkan kedudukan Tamar itu lebih rendah darinya. Seorang berkedudukan tinggi menyatakan bahwa dirinya bersalah itu sudah mencerminkan terjadinya pertobatan dalam dirinya. Yehuda mengatakan dirinya salah itu bukan hanya dalam hal Shela (dosa pokok), tapi juga dalam hal dosa yang diakibatkan karena dosa 1, yaitu skandal Yehuda dengan Tamar yang terjadi tanpa disadarinya (dosa derivasi 1).

D. Tak tepati lisan yang tak sesuai firman Allah bukan dosa

Anda mengatakan bahwa tidak melaksanakan apa yang dikatakan oleh lisannya sendiri itu dosa.

Tidak jadi membakar Tamar (Kejadian 38:24) hanya karena setelah tahu yang berbuat adalah dirinya. Dosa tidak melaksanakan lisannya sendiri.

Hal ini salah karena sangat tergantung dari apa yang dikatakan oleh lisannya.

Bila perkataan tersebut tidak sesuai dengan firman Allah, maka tidak melaksanakan perkataan tersebut bukan dosa.

Contoh

Tuhan melarang Anda membunuh. Di puncak kemarahan kepada seseorang, Anda mengatakan “Akan aku bunuh kamu!”, menuruti kebiasaan tetangga Anda. Nah, kalau Anda kemudian tidak jadi melaksanakan ucapan lisan Anda tersebut, Anda justru tidak berdosa, karena ucapan lisan Anda berlawanan dengan firman Allah.

Hal yang serupa juga terjadi pada Yehuda.

Tidak ada perintah Tuhan untuk membakar hidup-hidup manusia sebagai suatu bentuk hukuman. Di puncak kemarahan kepada seseorang, Yehuda mengatakan “Bakar dia!”, sesuai kebiasaan para tetangganya yang berkebangsaan Kanaan. Nah, kalau Yehuda kemudian tidak jadi melaksanakan ucapan lisannya tersebut, Yehuda justru tidak berdosa, karena ucapan lisan Yehuda tersebut berlawanan dengan firman Allah. Di sini, tidak melaksanakan ucapan lisan yang tidak sesuai dengan firman Allah justru adalah hal yang benar.

Bersikeras melaksanakan ucapan lisan yang tidak sesuai firman Allah justru akan membawanya berbuat dosa.

Yehuda mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan firman Allah:

Bawalah perempuan itu, supaya dibakar. (Kejadian 38:24)

Kita tahu bahwa hal ini tidak sesuai firman Allah karena tidak ada ayat dari era sebelum Yehuda yang menunjukkan Allah pernah memberi perintah ini kepada para nabi dari era sebelum Yehuda.

Andai Yehuda secara lisan mengatakan dirinya bersalah tapi tetap melakukan ucapannya yang tak sesuai firman Allah tersebut, maka pertobatannya hanya basa-basi mulut. Sebab, lisannya berlawanan dengan perbuatannya. Hal ini bukan pertobatan menurut Alkitab.

Anda sendiri mengakui bahwa Yehuda tidak melakuan ucapannya yang tak sesuai dengan firman Allah itu. Maka ini berarti Yehuda betul-betul bertobat, bukan cuma basa-basi mulut saja, sebab lisannya bersesuaian dengan perbuatannya.

Tentang perbuatan sebagai buah dari pertobatan, Nabi Yahya Pembabtis berkata demikian:

8 Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
9 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” (Lukas 3:8-9)

Hasil dari pertobatan (yaitu perbuatan riil) adalah hal yang utama.

 

E. Bukti pertobatan Yehuda

Pertobatan Yehuda bukan sekedar ucapan lisan “aku tidak benar”, karena ucapan lisan saja belum jadi bukti pertobatan yang kuat bila tidak diikuti dengan perbuatan. Bukti perbuatan Yehuda yang menunjukkan pertobatannya adalah tidak melaksanakan lisannya untuk membakar Tamar, sebab ucapan lisan tersebut tidak sesuai dengan firman Allah. Ini bukti pertama pertobatan Yehuda.

Bukti kedua pertobatan Yehuda adalah bahwa ucapan Yehuda “aku tidak benar” bersesuaian dengan perbuatan Yehuda, yaitu: Yehuda tidak lagi berhubungan sex dengan Tamar.

Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: “Bukan aku yang benar, tetapi perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku.” Dan Yehuda tidak bersetubuh lagi dengan Tamar. (Kejadian 38:26)

Bukti ketiga, setelah peristiwa ini hingga meninggalnya Yehuda, kita tidak lagi menemukan Yehuda yang melakukan skandal sex dengan siapapun. Ini mengindikasikan Yehuda telah betul-betul membalikkan badan dari jalan yang salah dan kembali ke jalan yang benar, khususnya dalam hal yang terkait dengan sex.

Bukti keempat, Yehuda tidak menggugurkan anak tersebut, juga tidak membunuh Tamar. Malah Yehuda mengakui dua anak tersebut sebagai anaknya sendiri dan menjadi ahli warisnya. Yehuda tidak menghapuskan kedua anak itu dari silsilahnya. Yehuda punya kekuasaan untuk membunuh Tamar atau menggugurkan kandungannya, juga menghapuskan anak kembar Tamar tersebut dari silsilah. Bila Yehuda melakukan hal tersebut, maka sampai kini, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi pada masa itu. Kejujuran tersebut mengindikasikan Yehuda betul-betul mengakui kesalahannya dan mau menanggung konsekwensi dari perbuatannya. Misal, dihujat oleh orang-orang yang merasa diri lebih suci ketimbang Yehuda.

Ini berarti kita menemukan bukti pertobatan Yehuda, yaitu:

  1. Mengakui secara lisan bahwa dirinya tidak benar. (Pengakuan lisan bukan yang terutama namun saya tuliskan di sini di awal untuk Anda yang nampaknya menganggap pengakuan lisan itu penting sekali)
  2. Yehuda tidak jadi melakukan ucapan lisannya yang tidak sesuai dengan firman Allah, yaitu ucapan bahwa dia akan membakar Tamar.
  3. Yehuda tidak lagi mengulangi perbuatan tersebut di sisa hidupnya. Inilah inti dari pertobatan menurut Alkitab.
  4. Yehuda tidak membunuh Tamar dan dua anaknya, tidak menghapus dari silsilah, malah menerima mereka sebagai keluarganya dan menjadikan dua anak Tamar itu sebagai ahli waris Yehuda. Yehuda bersedia mempertanggungjawabkan perbuatannya.

F. Berkat Allah bagi Yehuda diberikan setelah pertobatan Yehuda

8 Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu.

9 Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?

Pertobatan yang sungguh-sungguh tidak akan sia-sia, contohnya, Yehuda.

Pertobatan yang sungguh-sungguh tidak akan sia-sia, contohnya, Yehuda.

10 Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.

11 Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan; ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur.

12 Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu. (Kejadian 49:8-12)

Ayat ini menunjukkan bahwa raja-raja Israel akan berasal dari keturunan Yehuda, bahkan Al-Masih juga akan berasal dari suku Yehuda (ayat 10).

Janji berkat bagi Yehuda ini menunjukkan bahwa sejahat-jahatnya orang, setelah pertobatan yang sungguh-sungguh, akan dipakai oleh Allah secara luar biasa untuk maksud mulia Allah.

G. Simpulan

  1. Pertobatan bukanlah masalah kata, namun perubahan hidup secara nyata. Kata bukan hal yang paling utama.
  2. Yehuda betul-betul bertobat. Pertobatannya bukan hanya basa-basi lisan, namun tercermin dalam perbuatannya.
  3. Orang yang telah betul-betul bertobat dapat digunakan oleh Allah untuk maksud muliaNya. Dalam kasus Yehuda, Yehuda diberi berkat oleh Allah berupa raja-raja Israel berasal dari keturunannya, begitu pula Al-Masih akan lahir dari keturunannya.
  4. Pertobatan Yehuda mendatangkan berkat yang sangat besar. Pertobatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan disia-siakan oleh Allah.

 

Kata kunci: Bukti pertobatan Yehuda, pertobatan sungguh-sungguh datangkan berkat, tobat bukan kata tapi fakta perbuatan

Teladan buruk dari skandal seks Ruben

Tema: Skandal sex yang dilakukan oleh Ruben dilaporkan oleh Alkitab sebagai teladan buruk agar jangan ditiru.

Tanya

Diceritakan dalam Alkitab bahwa Ruben, anak tertua nabi Ya’kub melakukan skandal seksual (perzinahan) dengan gundik ayahnya

Ketika Israel diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, gundik ayahnya dan kedengaranlah hal itu kepada Israel (Kejadian 35:22).

Apakah ini juga harus diteladani oleh orang bertaqwa?

Jawab

ada 2 jenis teladan (contoh) dalam Alkitab, yaitu:

  1. Teladan baik (contoh yang baik) untuk diikutiRajin belajar dan kemudian mendapatkan peringkat pertama di kelas adalah teladan yang patut untuk ditiru. Oleh karena itu, anak yang mendapatkan peringkat pertama biasanya diberi penghargaan oleh sekolah, dengan tujuan, tindakan anak tersebut menjadi teladan yang baik untuk ditiru.
  2. Teladan buruk (contoh yang buruk) untuk tidak diikuti
    Disetrap

    Disetrap

    Mencontek adalah tindakan yang buruk. Ketika seorang anak ketahuan mencontek, guru memberikan hukuman kepada anak yang mencontek itu, misal, disuruh berdiri di depan kelas. Hukuman guru tersebut bertujuan agar tindakan mencontek tidak ditiru oleh anak-anak-anak lain. Dengan hukuman tersebut, anak-anak lain mengetahui bahwa anak yang mencontek tersebut telah memberikan teladan yang buruk.

Baik itu teladan baik maupun teladan buruk disebut sebagai teladan atau contoh. Teladan buruk dapat diketahui dari norma yang seharusnya dan dari akibat yang diterimanya atau berpotensi diterimanya.

Lalu, kisah Ruben dalam Kejadian 35:22 tergolong teladan baik atau teladan buruk? Jawabannya ada dalam Kejadian 49:4

Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku! (Kejadian 49:4)

  1. NormaNorma yang dilanggar Ruben adalah kesucian pernikahan.
  2. Akibat (bisa juga berupa potensi akibat)Hukuman yang diterima Ruben adalah tidak mendapatkan hak istimewa anak sulung, yaitu menjadi yang paling utama. Hukuman ini sangatlah berat, karena sebagai akibatnya, hingga sekarang, seluruh kaum keturunan Ruben juga kehilangan hak istimewa sebagai keturunan anak sulung sebagai yang terutama.

Dari konsekwensi yang diterima oleh Ruben, yaitu kehilangan hak sulung, maka dapat diketahui bahwa kasus Ruben adalah teladan buruk guna dihindari dan jangan ditiru.

Simpulan

  1. Ada 2 jenis teladan, yaitu: teladan baik (untuk ditiru) dan teladan buruk (untuk tidak ditiru).
  2. Skandal sex Ruben dikisahkan dalam Alkitab untuk menjadi teladan buruk agar jangan ditiru.

 


Kata kunci: skandal sex Ruben, teladan buruk untuk dihindari, membantah fitnah alkitab porno