Logika penciptaan alam semesta: langit, bumi, matahari, bulan, bintang (Kejadian 1)

Language: Indonesia | English

Tema: Membahas logika penciptaan alam semesta: langit, bumi, matahari, bulan, dan bintang yang dikisahkan dalam Kejadian 1:1. 

Tanya

Kejadian 1:1 Pada mulanya, waktu Allah mulai menciptakan alam semesta,

Kejadian 1:2 bumi belum berbentuk, dan masih kacau-balau. Samudra yang bergelora, yang menutupi segala sesuatu, diliputi oleh gelap gulita, tetapi kuasa Allah bergerak di atas permukaan air.

Pada saat ini bumi telah tercipta namun belum terbentuk.

Di ayat selanjutnya

Kejadian 1:14 Kemudian Allah berkata, “Hendaklah ada benda-benda terang di langit untuk menerangi bumi, untuk memisahkan siang dari malam, dan untuk menunjukkan saat mulainya hari, tahun, dan hari raya agama.” Maka hal itu terjadi.

Kejadian 1:16 Demikianlah Allah membuat kedua benda terang yang besar, yaitu matahari untuk menguasai siang, dan bulan untuk menguasai malam; selain itu dibuat-Nya juga bintang-bintang.

Ayat ini menjelaskan bahwa bumi tercipta pertama kali kemudian diikuti benda-benda langit lainnya, seperti bintang-bintang dan matahari.

Bagaimana bisa seperti itu, sedangkan banyak bintang yang umurnya miliaran tahun lebih tua daripada bumi. Lebih dekat lagi jika kita lihat tata surya, dimana matahari sebagai pusatnya / heliosentris, bagaimana mungkin bumi yang bukan pusat tata surya bisa muncul terlebih dahulu dibanding matahari.

terimakasih.

 

Jawab

A. Alkitab dan Sains

Alkitab menitikberatkan pada SIAPA pencipta alam semesta, sedangkan sains menitikberatkan pada BAGAIMANA proses penciptaan alam semesta. Keduanya tidak perlu saling dipertentangkan. Kita bisa berbeda pendapat mengenai BAGAIMANA proses penciptaan alam semesta, tapi semoga kita tidak berbeda pendapat mengenai SIAPA pencipta alam semesta.

B. Alam semesta diciptakan seketika pada satu waktu yang disebut “Pada mulanya”

Menurut Kejadian 1:1, alam semesta diciptakan dari ketiadaan dan terjadi pada suatu masa yang disebut pada mulanya.

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (Kejadian 1:1)

Frasa “pada mulanya” menunjuk pada suatu waktu yang tidak didahului oleh “hari kemarin”, “waktu tadi”, atau “baru saja”. Ini titik awal terjadinya alam semesta.

Kata “menciptakan” dalam ayat tersebut berasal dari kata בָּרֵאbāra’‘ yang  artinya: mencipta dari ketiadaan. Ini berarti “langit dan bumi” tercipta dari ketiadaan.

Frase “langit dan bumi” menunjukkan langit dan bumi tercipta secara bersama-sama. Kata “langit” sudah menyiratkan makna benda-benda langit dan bahan-bahan baku untuk membuat benda langit, yaitu berbagai unsur kimia. Bila Anda merasa kurang paham dengan hal ini, coba lihat kalimat “Malam ini langitnya cerah, sedangkan siang tadi agak mendung”. Langit malam yang cerah sudah menyiratkan keberadaan benda-benda langit yang terlihat pada malam hari, misal,  bulan dan bintang. Sementara itu, langit siang yang agak mendung sudah menyiratkan makna keberadaan matahari dan awan.

Kata “bumi” juga bermakna bumi dan segala isinya. Tapi, isi bumi pada saat baru diciptakan berbeda dengan isi bumi pada jaman sekarang. Isi bumi purba lantas diceritakan dalam ayat 2, agar para pembaca Alkitab tahu bahwa bumi pada saat baru diciptakan berbeda dari bumi pada jaman sekarang.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Dzat Allah melayang-layang di atas permukaan air. (Kejadian 1:2)

Georges Lemaître berfoto bersama Albert Einstein selepas mempresentasikan Big Bang Theory dalam pertemuan para pakar fisika yang dihadiri oleh Albert Einstein

Georges Lemaître berfoto bersama Albert Einstein selepas mempresentasikan Big Bang Theory dalam pertemuan para pakar fisika yang dihadiri oleh Albert Einstein pada tahun 1933. Sembari standing ovation, Einstein memuji teori tersebut sebagai teori penciptaan yang penjelasannya paling indah dan yang paling memuaskan.

Keberadaan ayat kedua ini mencegah pembaca salah tafsir dengan mengira isi bumi pada saat baru diciptakan sudah seperti jaman sekarang. Ayat 2 adalah keterangan untuk kata “bumi” yang tercantum pada ayat 1.

Pada ayat 2 disebutkan bahwa isi bumi purba adalah samudra raya, tidak ada daratan. Samudra raya tersebut berisi מָיִםmāyim‘. Kata ini sering diterjemahkan dengan kata “air”, tapi sebenarnya kata ini mempunyai makna selain air, yaitu: zat yang wujudnya seperti jus (juice). Jika kita melihat bumi kita terdiri dari mineral padat, maka samudra raya itu adalah samudra “juice” mineral, dengan kata lain, mineral cair.

Langit, benda-benda langit dan bahan baku benda-benda langit, dan bumi tercipta secara serentak dalam waktu bersamaan pada suatu waktu yang disebut “pada mulanya”, suatu waktu yang tidak didahului oleh kemarin.

Gagasan Kejadian 1:1 bahwa Allah menciptakan langit dan bumi secara serentak pada titik waktu “pada mulanya” ini juga nampak dalam Teori Dentuman Besar (Big Bang Theory) yang dibapaki oleh Georges Lemaître, seorang pakar Fisika dan pakar Astronomi, sekaligus pastor dari mazhab Katolik Roma.

 

C. Kalau benda-benda langit tercipta bersamaan dengan bumi cair, kenapa bumi gelap?

4 Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!
5 Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya?  — Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya?
6 Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya
7 pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai?
8 Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim?  —
9 ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan kekelaman menjadi kain bedungnya; (Ayub 38:4-9)

Ayat tersebut menceritakan bahwa penciptaan bumi (ayat 4) bersamaan dengan penciptaan bintang-bintang (ayat 7). Ini jelas merujuk kepada Kejadian 1:1, di mana bumi diciptakan secara serentak bersamaan dengan penciptaan langit (sudah termasuk isi langit). Kalau di langit sudah ada bintang-bintang (dan matahari adalah bintang yang terdekat dengan bumi), kenapa bumi gelap gulita sebagaimana yang dikisahkan dalam Kejadian 1:2?

Sebab pada waktu yang disebut “pada mulanya” itu, bumi dibungkus dengan awan dan mendung yang sangat tebal.

בְּשׂוּמִי עָנָן לְבֻשׁוֺ וַעֲרָפֶל חֲתֻלָּתוֺ:

Bǝśûmî `ānān lǝvušô wa`àrāfel ħàṯullāṯô.

ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan mendung yang sangat tebal dan berat menjadi kain bedungnya; (Ayub 38:9)

Tak ada cahaya dari benda-benda langit yang dapat menembus awan tebal tersebut. Itulah sebabnya bumi gelap gulita.

D. Sudut pandang penceritaan Kejadian 1:1 adalah dari permukaan bumi

Sudut pandang penceritaan sangat penting agar kita dapat memahami sesuatu. Misal, kita melihat sepeda motor dari sudut pandang depan atau belakang, maka akan terlihat seolah-olah sepeda motor beroda satu. Dan bila kita melihat sepeda motor dari sudut pandang sisi, maka akan terlihat bahwa sepeda motor beroda dua. Sudut pandang yang tepat dalam melihat sesuatu mempengaruhi persepsi kita mengenai sesuatu tersebut.

Sudut pandang yang kita gunakan untuk melihat kisah penciptaan Kejadian 1:1 adalah dari permukaan bumi.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Dzat Allah melayang-layang di atas permukaan air. (Kejadian 1:2)

E. Hendaklah ada terang

Bumi gelap gulita karena dibungkus awan yang sangat tebal dan berat. Begitu tebalnya awan itu sehingga bagian awan yang terlihat dari permukaan bumi juga gelap, sekalipun sudah ada benda-benda langit di luar awan dan mendung gelap itu. Lalu Allah berfirman “Hendaklah ada terang”.

וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים יְהִי אוֺר וַיְהִי-אוֺר:

wayyō’mer èlōhîm yǝhî ‘ôr wayǝhî-’ôr

Dan Allah berfirman, “Hendaklah ada terang”, dan terang pun ada. (Kejadian 1:3)

Ayat ini tidak berarti Allah menciptakan terang dari sesuatu yang tidak ada, sebab Alkitab tidak menggunakan kata בָּרֵא ’bāra’‘ dalam kejadian 1:3. Ini berarti, terang dan sumber terang tersebut sudah tercipta sebelumnya saat penciptaan langit dan bumi (Kejadian 1:1), dan firman “Hendaklah ada terang” hanya membuat terang yang ada di atas awan dan mendung yang sangat tebal dan berat itu dapat menembusnya, sehingga kemudian awan dan mendung tebal itu jadi ada sinarnya dan terlihat terang dari permukaan bumi.

Setelah terang langit terlihat, maka sebagai akibatnya hari siang pun jadi ada, setelah sebelumnya gelap gulita. Keberadaan terang langit tersebut memisahkan bagian bumi yang awannya terpapar matahari (siang) dan bagian bumi yang awannya tak terpapar sinar matahari (malam). Kemudian Allah membuat pergantian siang dan malam. Pergantian dari siang ke malam disebut petang (senja) dan pergantian dari malam ke siang disebut pagi. Ini menunjukkan bahwa pada Kejadian 1:4-5, Allah membuat bumi berotasi.

4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. (Kejadian 1:4-5)

Perlu diingat bahwa siang dan malam pada saat itu bukan pada permukaan bumi, tapi pada awan dan mendung yang membungkus bumi. Awan dan mendung yang sangat tebal itu nampaknya sudah lebih menipis, sehingga sudah bisa ditembus sinar matahari, walau ketebalannya belum memungkinkan intensitas sinarnya yang menembus dapat tiba sampai ke permukaan bumi.

F. Bukankah matahari, bulan, dan bintang baru tercipta pada hari keempat penciptaan (Kejadian 1:14-16)?

Interpretasi tersebut mempunyai satu kelemahan fatal, yaitu: ketiadaan kata בָּרֵא ’bāra’‘ yang  artinya: mencipta dari ketiadaan. Andai matahari, bulan, dan bintang baru diciptakan dari ketiadaan pada hari keempat, maka seharusnya ada kata בָּרֵא ’bāra’ dalam Kejadian 1:14-16. Ayat-ayat ini tidak memuat kata בָּרֵא ’bāra’ dan hanya memuat kata עָשָׂה`āśāh‘ yang artinya membuat dari sesuatu yang telah ada. Penggunaan kata עָשָׂה`āśāh‘ berarti, Kejadian 1:14-16 tidak mengisahkan penciptaan matahari, bulan, dan bintang dari tidak ada menjadi ada.

Lalu mengisahkan apa?

Tuhan membuat agar sinar matahari, bulan, dan bintang yang sudah tercipta pada Kejadian 1:1 itu sampai ke permukaan bumi. Pada Kejadian 1:4-5, awan dan mendung tebal yang berat itu hanya menipis sampai ketebalan yang memungkinkan sinar matahari yang menembus awan membuat langit terlihat ada sinarnya. Sedangkan pada Kejadian 14-16, awan dan mendung itu tersingkir, sehingga kemudian bumi mengalami siang dan malam.

14 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah benda-benda penerang pada cakrawala memisahkan siang dari malam (di bumi). Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,
15 dan sebagai penerang pada cakrawala hendaklah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.
16 Maka Allah membuat kedua benda penerang yang besar: yang lebih besar menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan membuat bintang-bintang juga menguasai malam.
17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. (Kejadian 1:14-18)

Perlu diperhatikan bahwa kata “membuat” pada ayat 16 tidak berarti mencipta dari tidak ada menjadi ada, sebab kata yang digunakan adalah עָשָׂה`āśāh‘. Kata “membuat” pada ayat 16 itu berarti begini:

  • Allah membuat matahari menguasai siang
  • Allah membuat bulan dan bintang menguasai malam

Matahari, bulan, dan bintang sudah ada, dan tinggal dibuat sebagai penguasa malam dan siang. Ayat 15 lebih menegaskan lagi hal ini. Dalam ayat 15 kita dapat membaca bahwa sebelum Allah menghendaki benda-benda tersebut menerangi bumi, benda-benda tersebut telah menjadi penerang pada cakrawala lebih dulu. Jadi memang benar bahwa sebelumnya semula matahari, bulan, dan bintang sudah menerangi cakrawala, namun terhalang awan dan mendung. Dan hanya setelah Allah berkehendak agar benda-benda penerang tersebut menerangi bumi saja maka sinar benda-benda penerang tersebut dapat sampai ke bumi dengan menyingkirkan awan dan mendung tersebut. Ketika sinar benda-benda penerang tersebut telah sampai bumi, maka Alkitab menegaskan bahwa tujuan Allah menaruh benda-benda penerang itu di langit sudah tercapai dengan mengatakan:

Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi (Kejadian 1:17)

Pemahaman ini dapat kita peroleh bila kita dapat membedakan makna kata “mencipta” (בָּרֵא ’bāra’) dan “membuat” (עָשָׂה`āśāh‘). Kedua kata tersebut nampak mirip dalam bahasa Indonesia, tapi sebenarnya maknanya berbeda bila melihat makna kata bahasa Ibraninya.

G. Simpulan

  1. Bumi diciptakan secara serentak bersamaan dengan penciptaan langit dan benda-benda langit, termasuk bintang-bintang.
  2. Bumi pada awal penciptaan berupa mineral cair, tak berbentuk, dan gelap gulita.
  3. Penyebab gelap gulita adalah karena awan dan mendung yang sangat tebal membungkus bumi, sehingga tidak ada cahaya yang dapat sampai ke bumi.
  4. Awan dan mendung yang sangat tebal dan berat itu dibuat Tuhan disingkirkan sehingga sinar matahari, bulan, dan bintang dapat sampai ke permukaan bumi (Kejadian 1:14-16), sehingga kemudian matahari menguasai siang, sedangkan bulan dan bintang menguasai malam.

Kata kunci: penciptaan alam semesta, bumi tidak mendahului matahari-bulan-bintang

Jump to:

  1. Bintang Timur: Yesus atau Iblis? Indeks relevansi: 5.487433433532715
  2. Tuhan tidak pernah letih lelah atau memerlukan istirahat Indeks relevansi: 4.973077774047852
  3. Bukti logika Firman Allah itu Tuhan Indeks relevansi: 4.657193660736084
  4. Signifikansi Tujuan Utama Allah Indeks relevansi: 3.817101001739502
  5. Persamaan & Perbedaan Adam & Isa (Yesus) Indeks relevansi: 3.789393186569214
  6. Yesus (Isa) adalah Rahmatan lil'alamin Indeks relevansi: 3.7824034690856934
  7. Jawaban subyektif kenapa saya tidak beragama Islam Indeks relevansi: 3.73850679397583
  8. Dasar iman kepada keaslian isi Alkitab Indeks relevansi: 3.4730799198150635
  9. Bab 1. Logika Natal Jatuh Tanggal 25 Desember (3) Indeks relevansi: 3.3140206336975098
  10. Natal bukan dari tradisi kafir Romawi Indeks relevansi: 3.2756128311157227

3 thoughts on “Logika penciptaan alam semesta: langit, bumi, matahari, bulan, bintang (Kejadian 1)

  1. wow…jika kuperhatikan sepertinya disini tafsirannya masih ada yang sangat lateral. AWAS…HATI-HATI ! kata-kata Alkitab banyak ditulis dengan kiasan. kebanyakan kiasannya BERBENTUK BAHASA FENOMENAL DAN BAHASA SIMBOLIS…….

    misal kejadian 1:1 disana ada kata bumi BUMI DISANA BUKAN BERMAKNA SEBAGAI PLANET BUMI LOOOH……TAPI adalah dimensi massa atau materi secara keseluruhan,sementara langit adalah ruang.

    kata "bara" selain bermakna "mencipta" arti harafiahnya juga bermakna "membuka" atau membawa kedalam existensi" jadi tidak mutlak bermakna penciptaan ex nihilo. banyak ayat-ayat alkitab perjanjian lama, yang menggunakan kata "bara" untuk menyebuti penciptaan, tapi bukan dari ex nihilo, saya yakin anda pemilik situs ini tahu, ayat dalam kitab mana saja itu. percaya atau tidak, alam semesta kita, dengan jelas digambarkan oleh alkitab dimulai oleh bigbang. bahkan banyak ayat alkitab yang menunjukkan jika pengembangan alam semeta (spread out/ stretchet out) atau (mengulurkan / menambah radius gelembung alam semesta) dilakukan oleh Tuhan dan ini cocok dengan teori bigbang.

    1. Teori Big Bang? itu adalah teori yg di buat oleh Manusia…
      jika memang Teori Big Bang benar" terjadi, itu bisa berarti semua terjadi secara 'kebetulan' kan..
      berbeda halnya apabila Tuhan yang dengan Tangan dan Firman nya "sengaja" menaruhnya dan mengatur nya sedemikian rupa sama seperti yg terjadi..

      Lagipula, Tuhan menciptakan dari "ketiadaan".. jika benar ada teori Big bang bahwa pada awal nya ada sesuatu yg meledak dengan dahsyat nya, itu berarti bukan dari "ketiadaan" tapi dari sesuatu yg telah ada..

      Manusia hanya mencoba menerka dan mempelajari dari semua kondisi alam semesta.
      bahkan kondisi itupun tidak selalu benar.. karna apakah ada teleskop yg mampu melihat ujung Alam Semesta ini? tidak kan? dan para ahli yg mengatakan bahwa alam semesta berkembang hanyalah sebuah prasangka dan mungkin sebuah kesimpulan. intinya "belum tentu benar"

      ada seseorang yg mampu menjelaskan semua nya kepada anda, bacalah buku "More than meets the eye / Lebih Dari yang Dilihat Mata" karya Richard A. Swenson, M.D.
      semoga anda dapat mengerti lebih jauh di bandingkan saya..
      trimmss GBU :)

      1. Bigbang theory itu bisa salah, karena bikinan manusia.

        Konsep Alkitab tentang penciptaan itu penciptaan seketika pada suatu hari yang tidak didahului oleh kemarin.

        Bigbang theory berusaha menjelaskan secara rasional mengenai ide dasar itu.

        Penjelasan secara ilmiah itu bisa salah, dengan kata lain, bigbang theory bisa salah. Namun kesalahan pada penjelasan tidak berarti kesalahan pada fakta yang dijelaskan.

        Semoga Anda nangkep dengan kalimat saya di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>