Asal-Usul Pohon Natal

Tema: Posting ini mendiskusikan asal-usul pohon Natal dan penyebarannya dari Jerman. Pohon Natal berasal dari perlengkapan panggung drama “Firdaus” abad 11 Masehi di Jerman, bukan berasal dari pemujaan berhala apapun.

Tanya

Bangsa Jerman kuno memiliki kebiasaan memasang batang pohon (lengkap dengan cabang-cabang dan daun-daunnya) di tempat tinggal mereka untuk mengusir ‘bad spirit’ (roh jahat), dan sebagai simbol agar musim semi cepat tiba. Inilah asal-usul pohon Natal.

Jawab

Asal-usul pohon Natal bukan dari kebiasaan memasang pohon di tempat tinggal mereka untuk mengusir ‘bad spirit’ (roh jahat) dan untuk simbol agar musim semi cepat tiba. Asal-usul pohon Natal berasal dari perlengkapan panggung drama “Firdaus” (Paradise Play) pada abad 11 Masehi yang sangat populer di Jerman.

Awalnya drama “Firdaus” hanya dipentaskan di dalam gereja Katolik Jerman oleh para rahib gereja Katolik. Tapi drama itu akhirnya dipentaskan di luar gereja karena antusiasme masyarakat yang tidak dapat ditampung di dalam gereja. Seiring popularitasnya, drama tersebut akhirnya juga dimainkan oleh para seniman drama dan kelompok teater keliling, bukan lagi hanya oleh rahib gereja saja. Drama ini pada dasarnya adalah drama rohani yang digunakan untuk mengajar masyarakat, karena pada masa itu buku-buku masih sangat jarang dan mahal (karena belum ditemukan mesin cetak) dan gambar-gambar juga jarang.

Drama “Firdaus” menggambarkan kisah Adam dan Hawa, serta kejatuhan manusia pertama dalam dosa, hingga kemudian ditempatkan di dunia ini oleh Allah. Drama “Firdaus” ini berakhir dengan Kejadian 3:15 yang menubuatkan kedatangan Yesus Kristus (Isa Al-Masih) ke dunia.

וְאֵיבָה אָשִׁית בֵּינְךׇ וּבֵין הָאִשָּׁה וּבֵין זַרְעֲךׇ וּבֵין זַרְעָהּ הוּא יְשׁוּפְךׇ רֹאשׁ וְאַתָּה תְּשׁוּפֶנּוּ עָקֵב: ס

Wǝ’êvāh ‘āšîṯ bênǝḵā ûvên hā’iššāh ûvên zar`áḵā ûvên zarǝ`āh hû’ yǝšûfḵā rō’š wǝ’atāh tǝšûfennû `āqēv.

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya. (Kejadian 3:15)

Perlengkapan panggung yang paling penting pada drama “Firdaus” itu adalah pohon yang berperan sebagai pohon Pengetahuan (Kejadian 2:9).

Untuk menguatkan kesan pohon, maka dipilih pohon yang tetap berwarna hijau sekalipun sedang musim dingin di Jerman dan pohon tersebut mudah diperoleh di Jerman. Pohon itu adalah pohon Silver Fir atau Cemara Perak (Abies alba). Dalam drama tersebut, pohon Natal disebut sebagai “Paradeisbaum” (Pohon Firdaus).

Sebagai properti panggung pentas drama yang sangat populer, pohon tersebut dihias agar terlihat indah. Selain itu, pada pohon tersebut juga digantungkan buah apel yang ceritanya berperan sebagai buah Pengetahuan. Sementara itu, para penonton drama tersebut berada di sekeliling pohon itu membentuk lingkaran. Drama tersebut dimainkan di dalam lingkaran penonton dan di sekitar pohon Cemara yang ceritanya berperan sebagai pohon Pengetahuan. Popularitas drama tersebut turut mendongkrak popularitas “Paradeisbaum” (Pohon Firdaus) untuk dipasang di rumah penduduk.

Rennaisance membawa dampak buruk bagi drama ruhani ini, karena nilai-nilai amoral secara perlahan menyusup ke dalam drama itu.  Hal tersebut mengundang gereja mengeluarkan fatwa untuk mengharamkan pementasan drama tersebut semenjak abad 15. Semenjak keluarnya fatwa itu, popularitas drama tersebut merosot dan akhirnya tidak dipentaskan lagi. Tidak dipentaskannya drama itu tidak membuat “Paradeisbaum” (Pohon Firdaus) turut menghilang. “Paradeisbaum” (Pohon Firdaus) tetap dipasang sejak menjelang hari Natal 25 Desember. Bahkan, “Paradeisbaum” (Pohon Firdaus) mendapatkan nama baru, “Christbaum” (Pohon Kristus). Perubahan makna ini menandakan adanya penafsiran bahwa Pohon Pengetahuan adalah simbol dari Kristus Sang Logos atau Kristus Sang Ilmu IlahiNya Allah.

Catatan tertulis tertua saat ini mengenai penggunaan pohon Terang (nama lain pohon Natal) berasal dari abad 15 M, tepatnya tahun 1521, dari daerah Alsace, Jerman. Semntara tulisan dari warga Strasburg tahun 1605 (abad 17) mengisahkan bahwa orang tua menghias pohon Cemara untuk anak-anak mereka dengan berbagai hiasan dari kertas warna-warni, Apel, wafer, dan permen. Sedangkan tulisan Johann Dannhauer dalam “The Milk of the Catechism” sekitar tahun 1650 menyatakan pohon yang dihias itu adalah mainan anak-anak yang tidak diketahui oleh Johann Dannhauer dari mana asalnya. Dari catatan-catatan tertulis tersebut, kita dapat mengetahui secara positif bahwa pada abad 15 Masehi hingga 17 Masehi, Pohon Natal adalah mainan anak-anak menjelang dan selama Natal, agar anak-anak senang dan untuk memeriahkan suasana.

Sebelum abad 17 Masehi, lilin masih ditempatkan terpisah dari pohon Natal. Pada abad 17 Masehi, lilin mulai ditempatkan di pohon Natal. Pohon Natal yang semula hanya berfungsi sebagai mainan anak-anak dan pemeriah suasana, sejak abad itu mendapatkan fungsi baru, yaitu sebagai tempat untuk meletakkan sumber terang yang bermakna spiritual, seperti yang telah kita diskusikan dalam “Asal-Usul Penggunaan Lilin Natal dan Lampu Natal Saat Natal“.

Abad 17, mainan anak-anak ini go international, dari Jerman, dia masuk ke Perancis. Tapi bangsawan Perancis baru mau menerima mainan anak-anak pada tahun 1837. Pertengahan abad 19, pohon Natal masuk ke Inggris. Di negara ini, “Paradeisbaum” (Pohon Firdaus) atau “Christbaum” (pohon Kristus) mendapatkan nama baru Christmas tree “pohon Natal”, sebab pohon Natal digunakan menjelang dan selama Natal saja. Pada tahun 1850, Charles Dicken, seorang pujangga terkenal Inggris, menyebut pohon Natal sebagai “mainan baru dari Jerman”.

Lukisan awal abad 19 ini mengisahkan anak-anak keluarga bangsawan Inggris bermain-main di sekitar pohon Natal mainan
Lukisan awal abad 19 ini mengisahkan anak-anak keluarga bangsawan Inggris bermain-main di sekitar pohon Natal mainan
Lukisan dari periode 1800-an ini menceritakan anak-anak bermain-main di sekitar pohon Natal mainan ditemani orangtua mereka
Lukisan dari periode 1800-an ini menceritakan anak-anak bermain-main di sekitar pohon Natal mainan ditemani orangtua mereka

Pohon Natal mainan anak-anak ini mulai naik pamor saat masuk ke Windsor Castle pada tahun 1841 atas perintah Pangeran Albert, suami Ratu Victoria.

Pada abad 19 Masehi pula, pohon Natal masuk ke Amerika dan toko penjual pohon Natal pertama muncul pada tahun 1851. Tahun 1856, mainan anak-anak ini dibawa masuk ke Gedung Putih oleh Presiden Amerika yang ke-14, Franklin Pierce (1804-1869) untuk sekolah minggu anak-anak Gedung Putih. Pohon Natal pertama dengan hiasan lampu Natal listrik muncul di Boston, Amerika, pada tahun 1912 . Pohon Natal pertama muncul di halaman gedung putih pada tahun 1923. Semenjak masuk istana raja Inggris, kalangan bangsawan Perancis, dan gedung putih Amerika, mainan anak-anak tersebut naik pamor, bukan hanya jadi mainan anak-anak rakyat jelata, tapi juga jadi mainan anak-anak para pejabat dan kepala negara. Lebih dari itu, bahkan mainan anak-anak itu kini sudah menjadi mainan orang dewasa dan mainan para cendekiawan.

Kesimpulan

Penggunaan pohon Cemara sebagai pohon Natal dan juga tindakan menghiasnya semata-mata karena alasan logis dan pragmatis, yaitu untuk perlengkapan drama “Firdaus” yang sangat populer pada abad 11 Masehi di Jerman. Hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan pemujaan berhala apapun.

Pada abad 15 Masehi hingga 17 Masehi, Pohon Natal adalah mainan anak-anak menjelang dan selama Natal, agar anak-anak senang dan untuk memeriahkan suasana. Pada abad 17 Masehi, lilin mulai ditempatkan di pohon Natal. Selain sebagai mainan anak-anak, pohon Natal juga menjadi tempat meletakkan sumber cahaya. Abad 17, mainan anak-anak ini go international, dari Jerman, dia masuk ke Perancis. Tapi bangsawan Perancis baru mau menerima mainan anak-anak pada tahun 1837. Pertengahan abad 19, pohon Natal masuk ke Inggris. Pada abad 19 Masehi pula, pohon Natal masuk ke Amerika dan toko penjual pohon Natal pertama muncul pada tahun 1851. Pohon Natal pertama muncul di halaman gedung putih pada tahun 1923. Mainan anak-anak itu kini sudah menjadi mainan orang dewasa dan mainan para cendekiawan.


Kata kunci: Asal-Usul Pohon Natal, asal-usul, drama Firdaus, mainan anak-anak, natal, pohon natal

Bibliografi

http://christmas-celebrations.org/186-paradise-tree.html; 11 Februari 2012

http://www.hymnsandcarolsofchristmas.com/O_Tannenbaum/06-The_Paradise_Tree.htm; 11 Februari 2012

http://www.orlutheran.com/html/chrtree.html; 11 Februari 2012

http://teacherlink.ed.usu.edu/tlresources/units/byrnes-celebrations/christmas.html; 11 Februari 2012

One thought on “Asal-Usul Pohon Natal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>