Tag Archives: Kesetiaan

Setia, Loyal, Bertanggungjawab, dan berkomitmen

Tema: membahas mengenai karakter setia, loyal, bertanggungjawab, dan berkomitmen menurut Injil.

Oleh: Yesika

Bacaan: Matius 24:45-51

45  “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?

46  Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

47  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.

48  Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya:

49  Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk,

50  maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya,

51  dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” (Matius 24:45-51)

Kata “setia” pada ayat tersebut di atas diterjemahkan dari kata πιστος ‘pistos’. Kata “pistos” (πιστος) memuat makna setia (faithful), loyal, dapat diandalkan (reliable), dapat dipercaya (trustworthy), dan percaya/ beriman pada bosnya (trustful). Sehingga, seorang hamba yang pistos, pastilah mempunyai ciri setia, loyal, dapat diandalkan, dan dapat dipercaya. Implikasinya, seorang yang setia pasti juga bertanggungjawab dan berkomitmen.

Siap, Komandan! Laksanakan!

Siap, Komandan! Laksanakan!

Matius 24:46 menunjukkan kesetiaan dalam konteks pelaksanaan perintah dan tugas dari Yesus Kristus (Isa Al-Masih).

Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. (Matius 24:46)

Hamba yang setia melaksanakan kepercayaan yang diberikan Tuhan kepadanya akan menerima kepercayaan yang lebih besar dari Tuhan dan diijinkan untuk masuk ke dalam sukacita surgawi.

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:21)

Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. (Lukas 19:17)

Pada ayat 45, kita juga dapat membaca bahwa cara melayani Tuhan itu dilakukan dengan melayani sesama manusia.

“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? (Matius 25:45)

Hal ini sejalan dengan Hukum Terutama, di mana perwujudan dari kasih kepada Allah adalah kasih kepada sesama manusia (Markus 12:29-31).

Melayani sebenarnya bukan suatu hal yang yang hanya kita lakukan jika kita sudah siap, melainkan suatu tugas atau kewajiban yang memang harus kita lakukan selama kita hidup di dunia ini, sebab kita ini hamba, dan entah merasa siap atau merasa tidak siap, sebagai seorang hamba, sudah sewajarnya melakukan perintah majikannya.

7 “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!

8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Lukas 17:7-10)

Bayangkan apa yang akan dilakukan Tuan kita ketika kita sebagai hamba malah bermalas-malasan dalam melaksanakan perintahNya!

Hamba yang tidak setia akan melalaikan kepercayaan dari Tuhan dengan kurang beriman (a), berbuat jahat (b), dan memilih menuruti hawa nafsu (c).

(a) Tuanku tidak datang-datang, (b) lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan (c) makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk. (Matius 25:49)

Akhirnya, apabila kelonggaran waktu untuk bertobat tapi dia tak juga bertobat, maka berakhirlah hamba yang tidak setia itu dalam neraka.

dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” (Matius 24:51)

Simpulan

  1. Kata “setia” dalam Matius 24:45-51 mencakup makna setia itu sendiri (faithful), loyal, dapat diandalkan (reliable), dapat dipercaya (trustworthy), dan beriman (trustful); implikasinya, bertanggung jawab dan berkomitmen.
  2. Hamba yang setia akan mendapatkan kepercayaan yang makin lama makin besar dan diundang untuk merasakan sukacita surgawi.
  3. Hamba yang tidak setia lebih memilih sukacita duniawi dan akan berakhir di neraka, bila tidak segera bertobat. Maka, marilah kita bertobat dan berusaha sekuat tenaga untuk jadi manusia yang berkarakter pistos (πιστος), yaitu setia, loyal, dapat diandalkan, dapat dipercaya, beriman, bertanggung jawab, dan berkomitmen).

 


Kata kunci: Kesetiaan, Loyalitas, Tanggung Jawab, dan Komitmen