Tag Archives: “Anak Allah”

Anak Allah vs “Anak Allah”. Bedanya apa? Denotatif vs Konotatif

Tema: menjabarkan perbedaan makna yang berlawanan antara Anak Allah dengan “Anak Allah” atau ‘Anak Allah’. Isa Al-Masih adalah “Anak Allah”, Isa Al-Masih bukan Anak Allah, sebab menurut Alkitab, Allah tidak berjenis kelamin dan tidak berkelamin, jadi tidak punya Anak.

Tanya

Secara garis besarnya, agama Kristen meyakini bahwa Nabi ‘Isa atau Yesus adalah Anak Tuhan.

Jawab

A. Tentang Agama Kristen

Pada jaman modern ini, Kristen dianggap oleh umum sebagai nama agama, meskipun sebenarnya bukan. Kristen adalah sebutan untuk para pengikut Al-Masih dari mazhab Theologi Barat. (Simak posting “Nasrani tidak sama dengan Kristen”)

Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah, murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen. (Kisah 11:26)

Namun berhubung Anda awam dengan sejarah umat Al-Masih, kami dapat menangkap bahwa yang Anda maksudkan adalah agama yang dianut oleh Nasrani dan juga yang dianut oleh Kristen, yaitu agama Jalan Lurus yang didakwahkan oleh Isa Al-Masih. Hal ini telah dibahas dalam posting “Umat Al-Masih itu multi-mazhab dan tidak homogen“.

B. Tentang Anak Allah vs “Anak Allah”

Ajaran Al-Masih yang saat ini dianut oleh umat Al-Masih, baik itu Kristen maupun Nasrani, mengajarkan perihal “Anak Allah”, namun bukan anak Allah dan juga bukan anak Tuhan. Dalam bahasa Indonesia, kata kias dituliskan dalam tanda kutip, sedangkan kata yang tidak dituliskan dalam tanda kutip bukan kata kias. Tanda kutip yang digunakan bisa tanda kutip ganda dan bisa juga tanda kutip tunggal.

kutu buku denotatif vs "kutu buku" konotatif

Kutu buku dalam makna sebenarnya vs “kutu buku” dalam makna kias

Bukan kias  vs  kias

Anak Allah vs ‘Anak Allah’

Anak Allah >< ‘Anak Allah’

Anak Allah ≠ ‘Anak Allah’

 Frasa “Anak Allah” yang di sebelah kiri adalah frasa bukan kias. Frase ” ‘Anak Allah’ ” di sebelah kanan adalah frasa kias.

Frasa “Anak Allah” dalam makna yang sebenarnya berarti Allah kawin dengan istrinya, lalu istrinya melahirkan anak. Sehingga, si anak biologis antara Allah dengan istrinya itu adalah Anak Allah. Tidak ada umat Al-Masih yang mengimani Anak Allah ini.

Frasa ” ‘Anak Allah’ ” dalam makna kias merujuk kepada Ilmu Allah, yaitu Sang Esensi Dzat Allah. Penggunaan kata kias “Anak Allah” untuk merujuk kepada Ilmu Allah dimulai dari sebuah kitab puisi yang ditulis oleh Nabi Sulaiman pada sekitar tahun 900-an Sebelum Masehi. Puisi Ibrani kuno sarat dengan kata kias. Makna kias “Anak Allah” yang merujuk ke Ilmu Allah dalam kitab puisi tersebut adalah bahwa Ilmu Allah bukan makhluk. Pada saat Allah berfirman, maka Allah tidak menciptakan firman, melainkan hanya mengeluarkan (kias: “melahirkan”) firman hakiki yang sudah ada di dalam diriNya. Firman hakiki tersebut adalah Ilmu Allah. Jadi ketika Allah berfirman, maka Allah hanya mengeluarkan (kias: “melahirkan”) Ilmu itu saja. Jadi kata kias “Anak Allah” yang merujuk ke Ilmu Allah atau pun Kalam Allah adalah bahwa Kalam Allah atau Ilmu Allah itu bukan makhluk.

Perhatikan perbedaan tajam di antara makna denotatif dan makna konotatif di atas.

Anda menuliskan bahwa umat Al-Masih mengimani bahwah Nabi ‘Isa atau Yesus adalah Anak Tuhan. Ini tidak tepat. Kalimat ini memberi kesan menyesatkan, seolah umat Al-Masih mengimani Nabi ‘Isa atau Yesus adalah anak biologis Allah. Tidak ada satu pun umat Al-Masih yang mengimani Isa sebagai anak biologis Allah atau anak yang diperanakkan oleh Allah.

Penulisan yang tepat, gunakan tanda kutip untuk menunjukkan kata ” ‘Anak Allah’ ” adalah kata kias yang merujuk kepada Ilmu Allah atau Kalam Allah, yaitu:

Nabi ‘Isa atau Yesus adalah ‘Anak Allah’

atau

Nabi ‘Isa atau Yesus adalah “Anak Allah”

Karena kata kias ” ‘Anak Allah’ ” merujuk kepada Kalam Allah, maka kalimat “Nabi ‘Isa atau Yesus adalah ‘Anak Allah’ ” dapat dituliskan tanpa kata kias sebagai berikut:

Kias: Nabi ‘Isa atau Yesus adalah ‘Anak Allah’

Kias: Nabi ‘Isa atau Yesus adalah “Anak Allah”

Bukan kias: Nabi ‘Isa atau Yesus adalah Kalam Allah

Contoh ayat yang menggunakan kata kias adalah Matius 16:6

Jawab Simon Petrus, “Ya Junjungan, Engkaulah Al Masih, Sang ‘Anak Allah’, Sang Hayat.” (Matius 16:6)

Ketika Simon Petrus mengatakan ” ‘Anak Allah’ “, maka ia tidak merujuk kepada “Anak Allah” dalam makna denotatif, melainkan ” ‘Anak Allah’ “ dalam makna konotatif atau dalam makna kias, yaitu merujuk ke Kalam Allah atau Ilmu Allah. Makna dari iman “Isa Al-Masih Kalam Allah” adalah bahwa manusia Isa Al-Masih adalah Kalam Huduth yang berkodrat makhluk, sedangkan hakikat Isa adalah Kalam Qodim, yaitu Ilmu Allah, yang berkodrat Tuhan.

Pengakuan iman Petrus Sang Hawariyyun yang dicatat oleh Matius Sang Hawariyyun pada sekitar tahun 70 Masehi punya makna yang sama seperti pernyataan iman Yohanes dalam Yohanes 1:1-18 yang dituliskan oleh Yohanes Sang Hawariyyun pada sekitar tahun 95 Masehi. Alkitab mengajarkan bahwa Allah tidak berjenis kelamin dan tidak berkelamin, sehingga mustahil punya anak dalam makna denotatif.

 

Simpulan

  1. Anak Allah (makna denotatif) berlawanan dengan “Anak Allah” (makna kias, makna konotatif).
  2. Kata kias “Anak Allah” merujuk kepada Ilmu Allah atau Kalam Allah, artinya, Kalam Allah atau Ilmu Allah bukan makhluk. Saat sedang berfirman, Ilmu atau Kalam itu hanya sekedar dikeluarkan (kias: “dilahirkan”) saja, bukan dibentuk dan bukan pula diciptakan.
  3. Ungkapan kias “Isa Al-Masih adalah ‘Anak Allah’ ”  berarti: Isa Al-Masih adalah Kalam Allah.
  4. Syahadat “Isa Al-Masih adalah Kalam Allah” berarti bahwa manusia Isa adalah Kalam Huduth (makhluk), sedangkan hakikat Isa adalah Kalam Qodim, yaitu Ilmu Allah Sang Esensi Dzat Allah yang berkodrat Tuhan.
  5. Isa Al-Masih adalah “Anak Allah” (makna kias), Isa Al-Masih bukan Anak Allah (makna denotatif), sebab menurut Alkitab, Allah tidak berjenis kelamin dan tidak berkelamin, jadi tidak punya anak.

 


Kata kunci: “Anak Allah”, ‘Anak Allah’, Anak Allah, Kalam Allah, makna Isa ‘Anak Allah’