Isa di puncak gunung: enam atau delapan hari?

Tema: 6 < t < 8 = 7, t ∈ Z. Maka, t = 7 (Matematika dalam Alkitab Matius 17:1, Markus 9:2, dan Lukas 9:28)

Tanya

Bandingkan Matius 17:1, Markus 9:2, dan Lukas 9:28 berikut ini:

1Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. (Matius 17:1 )

2Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka (Markus 9:2 )

28Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. (Lukas 9:28 )

Matius 17:1 dan Markus 9:2 menyebutkan angka enam hari. Hal itu berkontradiksi dengan Lukas 9:28 yang menyebutkan angka delapan hari. Ada selisih dua hari di sini. Mana angka yang benar?

  1. Enam hari (Matius 17:1, Markus 9:2 )
  2. Delapan hari (Lukas 9:28 )

Jawab

και μεθ ημερας εξ παραλαμβανει ο ιησους τον πετρον και ιακωβον και ιωαννην τον αδελφον αυτου και αναφερει αυτους εις ορος υψηλον κατ ιδιαν

Key meth hēmeras heks paralambanī ho iēsūs ton petron key iakōbon key iōannēn ton adelfon awtū key anaferī awtūs īs oros hupsēlon kat idian (Matius 17:1)

και μεθ ημερας εξ παραλαμβανει ο ιησους τον πετρον και τον ιακωβον και τον ιωαννην και αναφερει αυτους εις ορος υψηλον κατ ιδιαν μονους και μετεμορφωθη εμπροσθεν αυτων

key meth hēmeras heks paralambanī ho iēsūs ton petron key ton iakōbon key ton iōannēn key anaferī awtūs īs oros hupsēlon kat monūs key metemorfōthē emprosthē awtōn (Markus 9:2)

εγενετο δε μετα τους λογους τουτους ωσει ημεραι οκτω και παραλαβων τον πετρον και ιωαννην και ιακωβον ανεβη εις το ορος προσευξασθαι

egeneto de meta tūs logūs tūtūs ōsī hēmerey oktō key paralabōn ton petron key iōannēn key iakōbon anebē īs to oros prosyuksasthey (Lukas 9:28)

Selama kita berfokus pada angka enam dan angka delapan, maka pasti menimbulkan kesan palsu seolah-olah ayat-ayat tersebut saling bertentangan. Kunci ayat-ayat tersebut bukan pada angka enam dan angka delapan, melainkan pada kata μεθ ‘meth’ (Matius 17:1; Markus 9:2) dan kata ωσει ‘ōsī’ (Lukas 9:28).

Kata μεθ ‘meth’ mempunyai arti “sesudah; dibelakang” bila diikuti oleh bentuk kasus akusatif sebagaimana dalam ayat Matius 17:1 dan Markus 9:2 tersebut. Kata ini bisa menyatakan waktu saat itu juga begitu sesuatu terjadi atau beberapa waktu setelah suatu peristiwa. Dengan begitu, frase μεθ ημερας εξ ‘meth hēmeras heks’ (Matius 17:1; Markus 9:2) bisa berarti bahwa peristiwa tersebut terjadi tepat enam hari atau selewat enam hari (7, 8, 9, …, dst).

Kata ωσει ‘ōsī’ (Lukas 9:28) mempunyai arti:

  1. hampir
  2. sebelum
  3. seputar, sekitar, kisaran
  4. kira-kira
  5. seolah-olah, sama seperti

Dari berbagai arti kata ωσει ‘ōsī’ tersebut, terjemahan yang tepat untuk ωσει ‘ōsī’ dalam Lukas 9:28 adalah “hampir; sebelum”. Sehingga, dapat diketahui bahwa peristiwa yang diceritakan dalam Lukas 9:28 itu terjadi sebelum delapan hari.

Dengan mempertimbangkan Matius 17:1, Markus 9:2, dan Lukas 9:29, dapat diketahui bahwa peristiwa Isa membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke gunung terjadi pada waktu (t) setelah 6 hari tapi sebelum 8 hari. Bahasa matematika modernnya, 6 lebih kecil dari t (6 < t) dan t lebih kecil dari 8 (t < 8), dengan t bilangan bulat, karena masyarakat Ibrani kuno menghitung hari dengan bilangan bulat. Berapakah t? t = 7 hari.

Setelah enam hari tapi sebelum delapan hari, maka waktu tersebut adalah 7 hari

Setelah enam hari tapi sebelum delapan hari, maka waktu tersebut adalah 7 hari

Jadi, Matius 17:1, Markus 9:2, dan Lukas 9:29 tidak saling berkontradiksi satu sama lain, justru saling melengkapi untuk menunjukkan waktu Isa Al Masih mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik gunung, yaitu 7 hari setelah peristiwa sebelumnya.

Ramalan kedatangan Isa

Tema: Menguraikan benang kusut tafsir plesetan yang mencampuradukkan kerajaan Allah dengan kedatangan Isa di akhir jaman.

Tanya

Yesus menubuatkan bahwa dia dan kerajaan Allah akan datang sebelum para muridnya selesai mengunjungi kota-kota Israel (Matius 10:23, 16:28, Markus 9:1 dan Lukas 9:27). Ramalan ini meleset jauh, sebab sampai saat ini Yesus belum juga turun datang kembali ke dunia. Padahal para murid Yesus sudah mati semua 2000 tahun yang lalu.

Jawab

Interpretasi benang bundet dicirikan dengan kontradiksi.

Interpretasi benang bundet dicirikan dengan kontradiksi.

Tafsir plesetan tersebut bagai benang kusut yang mencampuradukkan kerajaan Allah dengan kedatangan Isa di akhir jaman. Orang yang tidak jeli mengaji Alkitab dapat terperangkap dalam benang kusut tersebut. Ingatlah satu hal penting ini dalam mengaji Alkitab Firman Allah: kontradiksi adalah bukti sesat interpretasi, baik itu interpretasi terucap, interpretasi sadar, atau pun interpretasi nir kata dalam alam bawah sadar. Kapan pun Anda bertemu tafsir kontradiktif, maka itu pertanda tafsir “benang kusut” tersebut mengandung salah interpretasi.

Mari kita uraikan benang kusut interpretasi plesetan di atas.

23 Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Matius 10:23)

Dalam Matius 10:23, Isa Al Masih Al Kalamullah memberi petunjuk bahwa bila para murid tersebut dianiaya, maka hendaklah mereka lari. Ayat tersebut dipraktekkan para murid dalam Matius 26:56.

56Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.” Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. (Matius 26:56)

Dengan mengatakan ini, sayyidina kita seperti memberi perintah “Hiduplah” atau “Tetaplah hidup”, dan bukannya memberi perintah “Matilah”.

Sebagaimana disebutkan dalam Matius 10:23, belum juga para murid itu selesai mengunjungi kota-kota Israil, “Anak Manusia” sudah datang.

Pada posting sebelumnya, kita telah membahas makna kias idiomAnak Manusia“, yaitu:

  1. Isa adalah Tuan Raja yang Allah lantik dan Allah beri kekuasaan dan kemuliaan untuk menjadi raja raja suatu kerajaan abadi yang tidak dapat musnah dan yang tidak akan lenyap dengan kekuasaan dunia-akherat, meliputi segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
  2. Manusia yang dijanjikan dalam Kej 3:15 untuk meremukkan iblis yang adalah kepala “anak-anak iblis”. Meremukkan Iblis berarti mengalahkan Iblis/ kegelapan.
  3. Memberi penekanan makna pada kodrat insani Isa, baik itu ruh, jiwa, maupun raga.

Perihal bahwa Isa adalah Raja, telah terjadi sebelum Isa diwafatkan oleh Allah (Yohanes 18:37), sedangkan perihal kodrat insaniah (manusiawi) Isa Al Masih telah terjadi sejak masih dalam rahim Maryam. Dengan demikian, makna kias idiom “Anak Manusia” pada Matius 10:23 bukan merujuk kepada kedua buah makna ini.

Kalau begitu, merujuk kepada makna yang mana? Merujuk kepada makna “Manusia yang dijanjikan dalam Kej 3:15 untuk meremukkan iblis yang adalah kepala “anak-anak iblis”;.meremukkan Iblis berarti mengalahkan Iblis/ kegelapan”, sebab perihal Isa meremukkan “kepala ular” (yaitu Iblis), baru terjadi pada saat Isa diwafatkan oleh Allah.

10 Dan aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi (Al Masih) -Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.

11Dan mereka mengalahkan dia (Iblis)oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.(Wahyu 12:10-11)

Simbol “Anak Domba” pada ayat tersebut merujuk kepada Isa Al Masih, sebagaimana dinyatakan oleh nabi Yahya Pembabtis (nabi Yohanes Pembabtis) dalam Injil Yohanes 1:36

Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” (Injil Yohanes 1:36)

Ungkapan “Darah Anak Domba” merujuk kepada Isa Al Masih yang diwafatkan oleh Allah.

Dengan demikian, dari Wahyu 12:10-11 dapat diketahui bahwa Iblis dikalahkan dengan diwafatkannya Isa Al Masih oleh Allah. Sebagai tambahan informasi, kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes, salah seorang sahabat terdekat Isa Al Masih. Kitab tersebut ditulis pada sekitar tahun 95 Masehi atau sekitar 30 tahun sesudah Paulus syahid, dipenggal oleh Kaisar Nero. Paulus mengetahui banyak hal tentang Isa Al Masih dari Yohanes, karena Paulus adalah anggota jama’ah Antiokhia, sedangkan Yohanes sahabat Isa Al Masih adalah Patriarkh atau Imam (Pemimpin) jama’ah Antiokhia yang pertama.

Dengan memahami uraian tersebut, kiranya kita memahami bahwa kedatangan “Anak Manusia” yang disebutkan dalam Matius 10:23 merujuk kepada kedatangan Isa Al Masih kepada para murid setelah peristiwa wafatnya Isa Al Masih. Bagaimana bisa Isa Al Masih yang telah wafat datang kembali kepada para murid? Bisa, karena Allah membangkitkan Isa Al Masih sehingga hidup kembali. Setelah dibangkitkan hidup kembali oleh Allah, Isa Al Masih datang kepada para murid. Jarak waktu antara para murid melarikan diri dan kedatangan kembali Isa Al Masih kepada mereka relatif dekat (kurang dari 40 hari). Waktu tersebut lebih singkat daripada waktu yang diperlukan untuk mengunjungi seluruh kota-kota di Israil dengan cara berjalan kaki.

Itulah sebabnya Isa Al Masih berkata, “Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, ‘Anak Manusia’ sudah datang.”

Bagaimana dengan ayat-ayat tentang kedatangan Kerajaan Allah?

28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat ‘Anak Manusia‘ datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Matius 16:28)

1 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.” (Markus 9:1)

27 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah.” (Lukas 9:27)

Kerajaan Allah bukanlah kerajaan sebagai sebuah bentuk negara (Kingdom), melainkan keadaan dimana Allah memerintah sebagai raja (Kingship). Bukan Kingdom, melainkan Kingship. Untuk membedakan diri dengan kerajaan dalam makna Kingdom, kami di sini akan menggunakan kata “ke-maharaja-an Allah” yang merujuk kepada Kingship.

Kemaharajaan Allah telah datang pada masa Isa Al Masih.

Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Dzat Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. (Matius 12:28)

Mengapa Isa menyatakan hal tersebut? Karena takhluknya setan kepada kuasa Allah menunjukkan kemaharajaan Allah.

Ayat ini perlu ditekankan dan diperhatikan agar tidak sesat tafsir terhadap Matius 16:28, Markus 9:1, dan Lukas 9:27. Anggapan bahwa Kerajaan Allah belum datang dan baru akan datang nanti seusai kiamat adalah tafsir plesetan. Kepleset tafsir dalam hal ini mengakibatkan tafsir plesetan tahap berikutnya yaitu anggapan keliru seolah ada murid Isa yang tidak pernah meninggal dunia. Waspadalah dengan plesetan tafsir Alkitab dari guru-guru palsu Injil!

Kembali ke topik….

Kemaharajan Allah tidak datang dengan tanda-tanda lahiriah semacam bendera, umbul-umbul, lambang negara, pasukan, parade kenegaraan, seragam, emblem, dan tanda-tanda lahiriah semacam itu.

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. (Lukas 17:20)

Kemaharaan Allah juga bukan kerajaan yang menempati suatu wilayah tertentu sebagaimana negara, karena kemaharajaan Allah ada di antara kita, yaitu dengan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Yang Maha Kudus dan Maha Tinggi).

Juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu. (Lukas 17:21)

Dengan demikian, Kemaharajaan Allah telah datang pada saat Isa Al Masih masih ada di dunia ini, antara lain ketika Isa Al Masih melakukan mujizat yang mendemonstrasikan kuasa Allah.

Simpulan

  1. Kerajaan Allah itu telah datang semenjak Isa masih di dunia ini.
  2. Orang yang dimaksudkan oleh Isa itu masih hidup saat kerajaan Allah tersebut hadir di bumi pada abad 1 Masehi.

 


Kata kunci: kerajaan Allah telah datang, Lukas 17: 20-21, Matius 12: 28, Lukas 9:27, Markus 9:1, Matius 10:23, Matius 16:28, Matius 26:56, Yohanes 18:37, Wahyu 12:10-11, Yohanes 1:36

Arti frasa “menyembah melalui” bukan makelar

Tema: Tidak ada makelar dalam hubungan Allah dengan umat Al-Masih.

Tanya

Katanya “Sembahlah Allah ‘Bapa’ melalui ‘Anak’-Nya Yesus Kristus’. Mau nyembah “Bapa” harus pakai makelar yaitu “Anak”-Nya, mending kalau si “Anak” nyampein ke “Bapa”-Nya. Kalau ngga, entar jadi sia-sia.

Jawab

Nampaknya Anda mengira kata “melalui” di situ dalam makna “wasilah” [ref]sarana/ metode/ cara/ makelar untuk mendekatkan diri pada Allah[/ref]. Ini pemaknaan yang sangat dangkal, bahkan ekstremnya dapat dapat dikatakan ini adalah pemaknaan yang salah. Arti dari “menyembah melalui” itu bukan dalam makna “wasilah” tersebut.

Selain itu, kata kias “Anak” sebenarnya merujuk kepada Ilmu Allah atau Kalam Allah. Sehingga, ketika ada kalimat “Isa Al-masih adalah ‘Anak’ “, maka kalimat itu berarti Isa Al-Masih adalah Kalam Allah atau Isa Al-Masih adalah Ilmu Allah. Sementara itu, frasa “….’Anak’-Nya, [yaitu:] Isa Al-Masih” berarti pengakuan iman bahwa Ilmu Allah atau Kalam Allah itu telah nuzul ke bumi menjadi manusia Isa Al-Masih.

Kalau bukan “wasilah”, lantas apa sebenarnya makna frasa “melalui ‘Anak’-Nya, Isa Al-Masih”?

Untuk menggambarkan makna tersebut, kita gunakan ilustrasi surat permohonan.

Kepada Yth.
Bos Allah/

[...... isi surat.
Bisa berupa sembah, puja, puji, pengakuan, permohanan, dsb.....]

Tertanda

a.n Tuanku Isa Al-Masih Kalam Allah

(tanda tangan nama diri di sini)

Surat untuk mengilustrasikan doa yang langsung ditujukan kepada Allah Sang "Bapa"

Surat untuk mengilustrasikan doa yang langsung ditujukan kepada Allah Sang “Bapa”

Dalam kaitannya dengan “atas nama Tuan Raja Isa” lebih kurang ilustrasinya begitu. Allah melihat surat permohonan itu diajukan oleh rakyatnya Raja siapa. Hal itu juga terkait erat dengan peran manusia Isa Al-Masih sebagai pensyafaat sepanjang jaman bagi umat Al-Masih di hadapan tahta Allah.

τις ο κατακρινων [κατακρινων] χριστος ο αποθανων μαλλον δε και εγερθεις ος και εστιν εν δεξια του θεου ος και εντυγχανει υπερ ημων

tis ho katakrinōn [katakrinōn] khristos ho apothanōn mallon de kai egertheis os kai estin en dexia tou theou os kai entugkhanei upper ēmōn

Siapakah yang dapat mempersalahkan kita? Isa Al Masih yang telah mati, bahkan lebih daripada itu, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, duduk di sebelah kanan Allah, dan menjadi Pensyafaat bagi kita? (Roma 8:34)

Doa umat Almasih itu sendiri langsung kepada Allah tanpa melalui perantara dalam makna wasilah atau pun makelar. Peran pensyafaat yang dijalankan oleh Isa terkait dengan jabatan Raja kita sebagai imam besar. Dengan manusia Isa Al-Masih sebagai imam besar di surga yang terus-menerus bersyafaat bagi kita di hadapan tahta Allah, maka kita dapat langsung menghadap Allah.

21  Kita pun mempunyai seorang Imam Besar yang bertanggung jawab atas Rumah Allah.

22  Karena itu marilah kita mendekati Allah dengan hati yang benar dalam keyakinan iman yang penuh karena hati kita telah dipercik sehingga suci dari hati nurani yang jahat, dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (Ibrani 10:21-22)

 

Simpulan

  1. Kata “melalui” dalam frasa “berdoa melalui” bukan dalam makna wasilah atau pun makelar, melainkan bermakna bahwa orang yang mengajukan doa tersebut adalah umat yang berada di bawah Sang Maharaja Isa Al-Masih Kalam Allah.
  2. Anggapan keliru “makelar” atau pun “wasilah” disebabkan oleh salah pemaknaan dari kata “perantara”

Kata kunci: syafaat, wasilah, perantara, Roma 8:34, Ibrani 10:21-22

Tahukah Yohanes Pembabtis bahwa Isa adalah Al-Masih?

Tema: Nabi Yohanes Sang Pembabtis tabayyun kepada Nabi Isa Al-Masih Kalamullah

Tanya

Dari Matius 3:11-14 dan Yohanes 1:31-34 dapat diketahui bahwa Yohanes Pembabtis tahu benar identitas Isa sebagai seorang Al Masih (Mesias). Tetapi dari Matius 11:2-3 dan Lukas 7:19-20, Yohanes Pembabtis mengirim murid-muridnya untuk menanyakan apakah Isa adalah seorang Al Masih (Mesias) atau bukan. Bagaimana ini?

Jawab

Pertanyaan Yohanes adalah pertanyaan tabayyun[ref]check, recheck, dan crosscheck untuk mencari kejelasan[/ref], bukan pertanyaan dari ketidaktahuan.

Silahkan Anda simak uraian berikut ini.

Di awal pelayanan Isa, Nabi Yohanes Sang Pembabtis alias Nabi Yahya Sang Pembabtis tidak ragu bahwa Isa adalah Al-Masih.

31  Sebelumnya aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi untuk itulah aku datang dan membabtis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israil.”
32  Yahya pun memberi kesaksian, katanya, “Aku telah melihat Ruh Allah turun dari surga seperti burung merpati dan berdiam di atas-Nya.
33  Sebelumnya aku sendiri pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang menyuruh aku supaya aku membabtis dengan air, telah bersabda kepadaku, ‘Apabila engkau melihat Ruh Allah turun ke atas seseorang dan berdiam di atas-Nya, Dia itulah yang akan membabtis dengan Ruh Allah Yang Mahasuci.’
34  Sekarang aku sudah melihat-Nya dan aku pun memberi kesaksian bahwa Dialah “Sang Anak” yang datang dari Allah.” (Yohanes 1:31-34)

 

11 Aku mempermandikan kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi setelah aku, akan datang orang yang lebih berkuasa daripadaku. Untuk membawa kasut-Nya saja pun aku tidak layak. Dia akan mempermandikan kamu dengan Ruh Allah Yang Mahasuci dan dengan api.
12 Alat penampi ada di tangan-Nya, dan Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya. Gandum akan dikumpulkan-Nya di lumbung, tetapi sekam akan dibakar-Nya dengan api yang tidak pernah padam.”
13 Kemudian datanglah Isa dari Galilea ke Sungai Yordan menemui Yahya untuk dipermandikan olehnya.
14 Tetapi Yahya berusaha menolak permintaan-Nya dengan berkata, “Seharusnya akulah yang dipermandikan, tetapi mengapa justru Engkau yang datang kepadaku?” (Matius 3:11-14)

Lama setelah peristiwa pembabtisan oleh Nabi Yohanes dan tidak lama sebelum syahid Nabi Yohanes, Nabi Yohanes Sang Pembabtis justru ragu benarkah Isa itu adalah Al Masih, karena Nabi Yohanes mendengar pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Isa Al-Masih. Untuk menjawab keraguannya, dia mengutus muridnya kepada Isa Al Masih untuk bertabayyun kepada Isa. Keraguan bahwa Isa itu adalah Al Masih tersirat dalam pertanyaan yang diajukan oleh para murid Yohanes itu “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

2  Di dalam penjara, Yahya mendengar segala sesuatu yang dilakukan oleh Al Masih. Lalu ia mengutus para pengikutnya
3  untuk bertanya kepada Isa, “Engkaukah yang akan datang itu, atau kami masih harus menunggu yang lain?” (Matius 11:2-3)

 

Ilustrasi Nabi Yahya Pembabtis dalam penjara

Ilustrasi Nabi Yahya Pembabtis dalam penjara

19 ia memanggil dua orang di antara mereka dan mengutus mereka kepada Isa, Sang Junjungan, untuk bertanya, “Engkaukah yang akan datang itu atau kami masih harus menunggu yang lain?”
20 Setelah kedua orang itu sampai kepada Isa, mereka berkata, “Yahya mengutus kami kepada Tuan untuk bertanya, ‘Engkaukah yang akan datang itu atau kami masih harus menunggu yang lain?’”(Lukas 7:19-20)

Keraguan Yohanes setelah mendengar kabar tentang pekerjaan Isa Al Masih itu karena dia, sebagaimana umumnya orang Israel, berpikir bahwa Al Masih adalah gelar bagi Raja Politik yang membangkitkan lagi Israil menjadi kerajaan politik seperti pada jaman Raja Daud dan Raja Sulaiman. Nabi Yohanes mengira bahwa Al-Masih adalah gelar bagi Raja Politik suatu gerakan zionisme politik.

Interpretasi Nabi Yohanes tersebut lantas dikoreksi oleh Isa Al Masih dengan menyatakan:

4  Sabda Isa kepada mereka, “Pergi dan beritahukanlah kepada Yahya segala sesuatu yang telah kamu dengar dan kamu lihat:
5  Orang buta dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan, orang kusta menjadi tahir karena sembuh, orang tuli dapat mendengar, orang mati dihidupkan kembali, dan Injil diberitakan kepada orang-orang miskin. (Matius 11:4-5)

 

22  Kemudian sabda Isa kepada utusan-utusan Yahya itu, “Pergi dan beritahukan kepada Yahya segala sesuatu yang telah kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir karena sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dihidupkan kembali, dan Injil diberitakan kepada orang-orang miskin. (Lukas 7:22)

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Al Masih adalah Raja yang lebih tinggi daripada raja politik.

  1. Raja politik tidak dapat mencelikkan mata orang buta hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  2. Raja politik tidak dapat membuat orang lumpuh jadi berjalan hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  3. Raja politik tidak dapat membuat menyembuhkan orang kusta hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  4. Raja politik tidak dapat membuat orang tuli jadi mendengar hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  5. Raja politik tidak dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  6. Raja politik tidak dapat memberitakan kabar baik (Injil) kepada orang miskin, sedangkan Raja Al Masih dapat

Semua itu menunjukkan bahwa makna Raja yang terkandung dalam makna termonologis kata “Al Masih” itu lebih dari sekedar raja politik.

Dengan mengatakan hal tersebut kepada nabi Yohanes Pembabtis, Raja Isa Al Masih hendak memberitahukan bahwa Al Masih itu suatu jabatan yang lebih dari Raja Politik. Bila umat Israel hanya mengharapkan bahwa Al Masih itu hanyalah Raja Politik, maka harapan umat Israel terhadap Al Masih dari Allah itu terlalu rendah. Allah telah memberikan kekuasaan (otoritas) yang jauh lebih besar kepada Al Masih daripada kekuasaan yang Allah berikan kepada seorang Raja politik. Mengenai besarnya kekuasaan Al Masih, ada tertulis dalam Matius:

18 Isa Al Masih mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku (yaitu kepada Isa Al Masih) telah diberikan (oleh Allah) segala kuasa di akhirat dan di dunia. (Matius 28:18)

Dengan memberi jawab kepada Yohanes seperti yang dinyatakan dalam Lukas 7:22 dan Matius 11:4-5, Isa Al Masih menyatakan bahwa dirinya adalah Al Masih, seorang Raja yang dilantik oleh Allah dengan kekuasaan yang meliputi dunia-akhirat, hidup dan mati.

Kesimpulan

Pertanyaan Yohanes itu tidak menunjukkan ketidaktahuan Yohanes, melainkan menunjukkan bahwa Yohanes sempat ragu karena penafsiran zionisme politik yang umum dianut oleh orang Israel abad 1 Masehi terhadap sosok Al Masih (yaitu raja politik) ternyata berbeda dengan apa yang Isa Al Masih kerjakan. Berlawanan dengan tafsir ini, pekerjaan Isa Al-Masih menunjukkan bahwa Al-Masih bukanlah raja politik dalam tafsir zionisme politik, melainkan raja dunia-akhirat dalam pemahaman zionisme ruhaniah. Pernyataan Isa juga menunjukkan penolakan Isa terhadap interpretasi zionisme politik dan bahkan Isa memberikan interpretasi yang benar, yaitu zionisme spiritual, yang berlawanan dengan interpretasi zionisme politik.

Pertanyaan Yohanes adalah pertanyaan tabayyun[ref]check, recheck, dan crosscheck untuk mencari kejelasan[/ref], bukan pertanyaan dari ketidaktahuan.

 


Kata kunci: Isa Almasih dan Yohanes Pembabtis, Almasih bukan raja politik, Almasih raja dunia-akhirat, zionisme spiritual, zionisme ruhani, bukan zionisme politik, tabayyun dalam Injil

Anak Yairus mati atau tidak? (Matius 9:18 & Markus 5:23)

Tema:  Menjawab tuduhan adanya kontradiksi antara Matius 9:18 dan Markus 5:23 pada kasus anak Yairus.

Tanya

Ketika Yesus bertemu Yairus, apakah anak perempuan Yairus sudah mati?

  1. Ya! Sudah mati! (Matius 9:18)
  2. Belum mati! Masih sakit dan hampir! (Markus 5: 23).

Jawab

Kata “telah mati” dalam Injil Matius 9:18 diterjemahkan dari kata ετελευησεν ‘etelyuēsen’.

Morfologi kata ετελευησεν ‘etelyuēsen’

  • voice : aktif
  • kala : aorist I
  • persona: III
  • bentuk : tunggal
  • modus : indicative
  • dari : τελευταω ‘telyuētaō’ yang bermakna leksikal: mati, wafat.

Jadi, makna gramatikal kata ετελευησεν ‘etelyuēsen’ adalah: telah mati atau telah wafat.

Frase “hampir mati” dalam Injil Markus 5:23 edisi bahasa Indonesia diterjemahkan dari frase εσχατως εχει ‘eskhatōs ekhī’.

εσχατως εχει ‘eskhatōs ekhī’ → εσχατως ‘eskhatōs’ + εχει ‘ekhī’

Kata kerja intransitive εχει ‘ekhī’ berarti: being (ada, berada, keberadaan).

Kata εσχατως ‘eskhatōs’ adalah adverb yang berarti berakhir (finishedly).

Secara literal, frasa εσχατως εχει berarti: being finishedly atau keberadaannya telah berakhir.

Ungkapan ini mirip dengan ungkapan “meninggal dunia”, “sudah tidak ada”, atau “mangkat” yang merujuk kepada seseorang yang telah wafat.

Ilustrasi Isa Al-Masih menghidupkan kembali anak Yairus

Ilustrasi Isa Al-Masih menghidupkan kembali anak Yairus.

Respon orang banyak yang mentertawakan pernyataan “anak itu tidak mati” (Markus 5:40) menunjukkan bahwa anak itu memang telah mati. Di samping itu, pandangan bahwa anak perempuan Yairus itu telah meninggal dunia didukung ayat Markus 5:35 dan 38. Frase “tetap hidup” dalam Markus 5:23 seharusnya diterjemahkan “akan hidup” karena berbentuk future tense (kala nanti).

Perbedaan antara Matius dan Markus dalam hal ini adalah diksi (pilihan kata). Matius menggunakan kata yang lugas (mati/ wafat), sedangkan Markus menggunakan ungkapan yang lebih halus (“sudah tidak ada”). Keduanya sama-sama berarti telah wafat atau meninggal dunia.

 

Kesimpulan

Jadi, Matius 9:18 tidak berkontradiksi dengan Markus 5:23. Makna kedua ayat itu sama-sama menyatakan bahwa anak Yairus telah meninggal dunia.

 

 


Kata kunci: anak Yairus, Matius 9:18,  Markus 5:23

Dakwah Isa Al-Masih ke Libanon di luar Israel.

Tema: Isa mendakwahkan Injil ke Libanon, baik kepada orang Israel maupun kepada orang non-Israel.

Tanya

Konteks Al-Masih pernah bekeliling ke luar Israel — misal sampai ke Libanon — juga untuk itu, simply karena dari dulu kaum Yahudi berdiaspora.

Jawab

Anggapan Anda tersebut sama seperti orang-orang Yahudi yang mengikuti Isa Al-Masih kala itu. Kala itu, orang-orang Yahudi mengira Isa Al-Masih hanya bagi Yahudi saja, sehingga, ketika orang non-Yahudi mendekat kepada Isa Al-Masih, maka mereka meminta Isa Al-Masih untuk mengusir orang tersebut.

Tetapi Isa tidak menjawabnya dengan sepatah kata pun. Lalu para pengikut-Nya mendekati Isa dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah perempuan itu pergi, karena ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” (Matius 15:23)

Isa tahu isi hati mereka, dan saat para murid berkata begitu, Isa berkata “Aku diutus hanya kepada orang Israel”.

Bersabdalah Isa, “Aku hanya diutus kepada domba-domba yang hilang dari antara bani Israil.” (Matius 15:24)

Setelah perkataan itu, para murid terbungkam… tidak ada lagi yang berbicara. Nada bicara yang seperti apa yang membuat orang-orang Israel yang semula ribut meminta Isa agar mengusir orang non-Israel itu jadi terdiam senyap? Nada seperti apa yang membuat orang yang semula berpikir Isa hanya bagi Yahudi lantas terdiam seribu bahasa?

Nada sindiran tajam!

Usai membungkam orang-orang Yahudi, Isa lantas memberi pelayanan kepada wanita Siria-Libanon-Yunani itu.

Pertama, Isa menguji iman wanita tersebut. Kemudian Isa memuji besarnya iman orang non-Israel tersebut dengan berkata: “Besar sekali imanmu.”

Lalu Isa Al-Masih berkata kepada orang Siria-Libanon itu, “Ibu, sungguh besar imanmu! Biarlah terjadi apa yang kauinginkan!” Pada saat itu juga anak wanita itu sembuh. (Matius 15:28)

Ilustrasi Isa Al-Masih mendakwahkan Injil di Libanon kepada perempuan Siria-Libanon warga Yunani.

Ilustrasi Isa Al-Masih mendakwahkan Injil di Libanon kepada perempuan Siria-Libanon warga Yunani.

Tidak pernah satu kalipun Isa memuji iman orang Israel, namun dengan tanpa ragu, Isa memuji iman orang non-Israel.

Pelayanan Isa kepada orang non-Yahudi di daerah Libanon mengindikasikan bahwa perjalanan dakwah Isa Al-Masih ke luar negeri bukan hanya kepada kaum Yahudi diaspora, namun juga kepada bangsa non-Israel pula.

Kesimpulan

Isa Al-Masih berdakwah keliling ke luar Israel kepada orang Israel maupun kepada orang non-Israel. Ini mengindikasikan bahwa umat Al-Masih generasi pertama bukan hanya terdiri dari bangsa Israel dan Yahudi saja, namun juga bangsa-bangsa lainnya.


Kata kunci: Dakwah Isa ke luar Israel, Isa ke Libanon, Isa dan wanita Siro-fenisia

Komunitas Kristen Antiokhia Sebelum Paulus

Tema: Komunitas umat Al-Masih Antiokhia sudah ada dari jaman sebelum Paulus

Tanya

Paulus membuka komunitas Kristiani di Antiokhia (?)

Jawab

Sebelum Paulus mengikuti Isa Al-Masih, Antiokhia sudah memiliki komunitas pengikut Isa Al-Masih.

Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Dzat Sang Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. (Kisah 6:5)

t_Stoning of St. Stephanus by Rembrandt

Ayat tersebut berasal dari era Stefanus masih hidup. Paulus mengikuti Isa Al-Masih setelah syahidnya Stefanus. Kalau begitu, ayat tersebut mengisahkan keberadaan umat Al-Masih di Antiokhia sebelum Paulus. Bahkan nantinya Paulus masuk menjadi warga komunitas umat Al-Masih Antiokhia.

Jadi, keliru bila menganggap komunitas Kristiani Antiokhia dibuka oleh Paulus, karena komunitas tersebut sudah ada sebelum Paulus mengikuti Isa Al-Masih.

Kesimpulan

  1. Komunitas umat Al-Masih Antiokhia sudah ada dari era sebelum Paulus mengikuti Isa.
  2. Setelah mengikuti Isa, Paulus di kemudian hari menjadi anggota komunitas umat Al-Masih Antiokhia.
  3. Paulus bukan perintis, bukan pendiri, dan juga bukan pemimpin umat Al-Masih Antiokhia.

Kata kunci: antiokhia pra-Paulus, Antiokhia, Paulus

Umat Al-Masih Generasi 1

Tema: membahas siapa yang disebut umat Al-masih generasi 1.

Tanya

Mungkin kita perlu mempertegas apa yg dimaksud murid atau pengikut Isa al-Masih awal itu. Common sense saja, bahwa pengikut itu adalah yang terus mengikuti perjalanan al-Masih hingga akhirnya menyebarkan ajaran-ajaran al-Masih.

Jawab

Agaknya Anda mengira umat Al-masih generasi 1 itu jumlahnya hanya 12 orang, yaitu mereka yang disebut “rasul” alias Hawariyyun. Anggapan itu keliru.

Umat Al-Masih generasi pertama berjumlah ribuan.

Dalam kasus 5 roti dan 2 ikan, tercatat ada 5.000 orang laki-laki yang jadi pengikut Isa Al-Masih.

Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki. (Markus 6:44)

Jumlah 5.000 itu belum terhitung wanita dan anak-anak.

Ilustrasi Isa memberi makan para pengikut yang berjumlah 5000 laki-laki (perhitungan tersebut belum memasukkan perempuan dan anak-anak)

Dalam kasus Isa Al-Masih masuk ke dalam kota Yerusalem dengan menggunakan keledai, seluruh kota Yerusalem menjadi heboh karena kedatangan Isa. Anda dapat bayangkan, bila hanya 13 orang yang datang ke Jakarta, akankah Jakarta menjadi heboh? Tentu tidak. Begitu pula Yerusalem tidak akan heboh bila yang datang hanya 13 orang saja. Rombongan besar orang mengikuti Isa Al-Masih. Kedatangan rombongan ribuan orang yang berseru-seru mengelu-elukan Isa Al-Masih membuat heboh Yerusalem.

8. Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.

9. Dan orang banyak yang berjalan di depan Isa dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Allah, hosana di tempat yang mahatinggi!”

10. Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: “Siapakah orang ini?”

11. Dan orang banyak itu menyahut: “Inilah nabi Isa dari Nazaret di Galilea.” (Matius 21:8-11)

Juga, Injil menceritakan, karena begitu banyak orang yang terus mengikuti Isa sampai-sampai manusia Isa itu jadi sulit mencari waktu untuk sendirian.

7.  Kemudian Isa beserta para murid menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea,

8 . dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. (Markus 3:7)

Orang-orang yang disebut umat Al-Masih generasi 1 bukan hanya orang yang mengikuti Isa ke mana-mana, namun juga ribuan orang lain yang tinggal menetap di kota-kota yang ada, baik itu kota-kota dalam Israel maupun kota-kota di luar Israel, seperti di Tirus dan Sidon. Termasuk ke dalam umat Al-Masih generasi 1 adalah bangsa-bangsa non-Israel, seperti bangsa siria-fenisia (Libanon)-Yunani (Markus 7:26) dan bangsa Romawi (Matius 8:5-10).

Karena diajar langsung oleh Isa, umat Al-Masih generasi pertama dapat mengetahui tulisan-tulisan mana saja yang sesuai dengan ajaran Isa Al-Masih.

 

KESIMPULAN:

  1. Yang disebut umat Al-Masih generasi 1 adalah ribuan orang yang pernah diajar langsung oleh Isa Al-Masih.
  2. Mereka yang diajar langsung oleh Isa Al-Masih dapat mengetahui dengan mudah apakah suatu tulisan sesuai dengan ajaran Isa Al-Masih atau tidak.
  3. Umat Al-Masih generasi 1 terdiri dari beraneka bangsa, baik bangsa Yahudi maupun bangsa non-Yahudi. Injil mencatat orang Romawi, orang fenisia (Siria-fenisia/Libanon- Yunani) menjadi umat Al-Masih generasi 1.
  4. Umat Al-Masih generasi pertama berjumlah ribuan.

Kata kunci: umat Isa Al-masih generasi 1, pengikut Isa Al-Masih generasi 1

Tongkat dalam perjalanan, boleh atau tidak?

Tema: Membuktikan secara logis bahwa Markus 6:8 tidak berkontradiksi dengan Matius 10:9-10 dan Lukas 9:3

Tanya

Bolehkah membawa tongkat dalam perjalanan?

  1. Boleh (Markus 6:8)
  2. Tidak boleh (Matius 10:9-10; Lukas 9:3)

 

Jawab

Και παραγγειλεν αυτοις ινα μηδεν αιρωσιν εις οδον ει μη ραβδον μονον, μη αρτον, μη πηραν, μη εις την ζωνην χαλκον

Kai parangīlen awtois ina mēden airōsin īs hodon ī mē rabdon monon, mē arton, mē pēran, mē īs tēn zōnēn khalkon (Markus 6:8)

 

Poin yang membuat Injil Markus 6:8 seolah-olah berkontradiksi dengan Lukas 9:3 dan Matius 10:9-10 terletak pada kata ει ‘ī ‘. Satu vokal rangkap ini punya makna leksikal: jikalau, apabila, kalau-kalau, dan apakah (seperti pada penggunaan “apakah ini atau pun itu”).

Kata ει ‘ī ‘ dalam Markus 6:8 sering diterjemahkan dengan makna “jikalau”, sehingga ketika bertemu dengan kata μη ‘mē’ “jangan” jadi bermakna “jikalau jangan” yang kemudian jadi bermakna “kecuali”.

Kata μη ‘mē’ dapat digunakan sebagai satu rangkaian seperti pada μη…μη…μη…μη… ‘mē…mē…mē…mē…’

Bila titik-titik itu diwakili dengan variabel a, b, c, dan d, maka rangkaian μη…μη…μη…μη… ‘mē…mē…mē…mē…’ jadi μη a μη b μη c μη d ‘mē a mē b mē c mē d’, artinya: jangan a, b, c, atau pun d.

Ini berarti μη ‘mē’ pada frase μη ραβδον ‘mē rabdon’ merupakan bagian dari rangkaian μη ‘mē’. Sehingga, kata μη ‘mē’ pada frase μη ραβδον tidak bisa dipotong begitu saja dan diartikan secara tersendiri dan malah ditafsirkan satu frase dengan ει ‘ī ‘ menjadi ει μη ‘ī mē’ “kecuali”.

Dengan pemahaman rangkaian μη ραβδον μονον, μη αρτον, μη πηραν, μη εις την ζωνην χαλκον ‘mē rabdon monon, mē arton, mē pēran, mē īs tēn zōnēn khalkon’, maka diperoleh arti: “jangan (membawa) tongkat, roti, bekal, atau pun uang dalam ikat pinggang” atau, bentuk pasifnya, “tongkat, roti, bekal, atau pun uang dalam ikat pinggang jangan (dibawa).”

Analisis frasa tersebut adalah:

ει + μη ραβδον μονον, μη αρτον, μη πηραν, μη εις την ζωνην χαλκον

ī + mē rabdon monon, mē arton, mē pēran, mē īs tēn zōnēnkhalkon

bukan

ει μη + ραβδον μονον, μη αρτον, μη πηραν, μη εις την ζωνην χαλκον

ī mē + rabdon monon, mē arton, mē pēran, mē īs tēn zōnēnkhalkon

 

Analisis ini membawa kita untuk menghasilkan terjemahan literal frase tersebut sebagai berikut:

ει + μη ραβδον μονον, μη αρτον, μη πηραν, μη εις την ζωνην χαλκον
ī + mē rabdon monon, mē arton, mē pēran, mē īs tēn zōnēn khalkon
Apakah itu + “jangan [membawa] tongkat, roti, bekal, ataupun uang dalam ikat pinggang”atau, bentuk pasifnya,

“tongkat, roti, bekal, ataupun uang dalam ikat pinggang jangan [dibawa].”

Setelah mengetahui ini, kita dapat menterjemahkan Markus 6:8 sebagai berikut:

dan [Isa] berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan; apakah itu tongkat, roti, bekal, atau pun uang dalam ikat pinggang jangan dibawa. (Markus 6:8)

Selanjutnya, bandingkan terjemahan Markus 6:8 tersebut dengan terjemahan Lukas 9:3 dan Matius 10:9-10 sebagai berikut:

Και ειπεν προς αυτους, Μηδεν αιρετε εις την οδον, μητε ραβδον μητε πηραν μητε αρτον μητε αργυριον μητε [ανα] δυο χιτωνας εχειν

kai īpen pros awtūs, mēden airete īs tēn hodon, mēte rabdon mēte pēran mēte arton mēte argurion mēte [ana] duo khitōnas ekhīn

dan Isa berkata kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju” (Injil Lukas 9:3)

Μη κτησησθε χρυσον μηδε αργυρον μηδε χαλκον εις τας ζωνας υμων μη παραν εις οδον μηδε δυο χιτονας μηδε υποδηματα μηδε ραβδον· αξιος γαρ ο εργατης της τροφης αυτου

Mēktēsēsthe khruson mēde arguron mēde khalkon īs tas zōnas humōn mē paran īs hodon mēde duo khitonas mēde hupodēmata mēde rabdon, aksios gar ho ergatēs tēs trofēs awtū

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu atau bekal dalam perjalanan atau baju 2 helai atau kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. (Matius 10:9-10)

Tidak ada kontradiksi sama sekali, sepanjang terjemahan dan interpretasinya tepat.

Tongkat adalah simbol dari tindakan memerintah.

dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk — sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku — (Wahyu 2:27)

Eisenhower Confers with Sukarno in Meeting

Bung Karno juga mengenakan tongkat pemerintahan (disebut tongkat komando) yang selalu dibawanya, termasuk saat pembicaraan tingkat tinggi dengan Ike Eisenhower (Sumber Photo : Time Magazine). Tidak diketahui secara pasti penyebab Soekarno mengenakan tongkat simbol pemerintahan ala Alkitab.

Tongkat tidak dibawa dalam menda’wahkan Injil bermakna simbolik bahwa da’wah Injil tidak dilakukan dengan menggunakan otoritas pemerintahan, misal, tidak menggunakan otoritas negara untuk memaksa orang mengikuti Isa Al-Masih.

 

Simpulan

  1. Markus 6:8 tidak bertentangan dengan Matius 10:9-10; Lukas 9:3
  2. Ketiga ayat tersebut menyatakan bahwa tongkat jangan dibawa.
  3. Makna simbolik dari tidak membawa tongkat dalam menda’wahkan Injil adalah tidak menggunakan otoritas negara untuk memaksa orang mengikuti Isa Al-Masih.

Kata kunci: bolehkan membawa tongkat dalam perjalanan, tongkat di perjalanan

Kasut dalam perjalanan, boleh atau tidak?

Tema: Membahas tentang kasut di perjalanan boleh dibawa atau tidak dan membuktikan bahwa tidak ada kontradiksi Alkitab antara Markus 6:9 dan Matius 10:9-10

Tanya

Bolehkah membawa kasut dalam perjalanan?

  1. Boleh (Markus 6:9)
  2. Tidak boleh (Matius 10:10)

 

Jawab

Kedua ayat tersebut tidak berkontradiksi sebab:

1. Markus 6:9 menggunakan kata υποδεδεμενουςhupodedemenūs‘ “memakai

αλλα υποδεδεμενους σανδαλια, και μη ενδυσησθεδυο χιτωνας

alla hupodedemenūs sandalia kai mē endusēsthe duo khitōnas

Boleh memakai alas kaki, dan jangan memakai 2 baju (Markus 6:9)

2. Matius 10:9-10 menggunakan kata κτησησθεktēsēsthe‘ “membawa

Μη κτησησθε χρυσον μηδε αργυρον μηδε χαλκον εις τας ζωνας υμων μη παραν εις οδον μηδε δυο χιτονας μηδε υποδηματα μηδε ραβδον· αξιος γαρ ο εργατης της τροφης αυτου

ktēsēsthe khruson mēde arguron mēde khalkon īs tas zōnas humōn mē paran īs hodon mēde duo khitonas mēde hupodēmata mēde rabdon, aksios gar ho ergatēs tēs trofēs awtū

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu atau bekal dalam perjalanan atau baju 2 helai atau kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. (Matius 10:9-10)

Sintesalah informasi dari Markus 6:9 dan Matius 10:9-10, maka kita memperoleh kalimat “kasut boleh dipakai tapi jangan dibawa”.

Membawa sepatu tapi tidak memakai sepatu.

Karena suatu kondisi, anak-anak ini membawa sepatu tapi tidak memakai sepatu. Dalam kondisi normal, tentunya anak-anak tersebut sepatunya dipakai, bukannya dibawa.

Konteks dari Markus 6:9 dan Matius 10:9-10 adalah menda’wahkan Injil. Dalam konteks da’wah Injil, kasut boleh dipakai, tapi jangan dibawa. Kasut apakah yang dipakai dalam menda’wahkan Injil? Makna simbolik kasut tersebut dijabarkan dalam Efesus 6:15, yaitu kasut kerelaan hati untuk menda’wahkan Injil.

kakimu berkasutkan kerelaan hati untuk menda’wahkan Injil damai sejahtera (Efesus 6:15)

Setelah paham hal ini, barulah kita jawab pertanyaan tersebut di atas:

  1. Bolehkah membawa kasut dalam perjalanan? Tidak boleh.
  2. Bolehkan memakai kasut dalam perjalanan? Boleh.
  3. Kasut dalam perjalanan boleh atau tidak? Kasut tidak boleh dibawa tapi boleh dipakai.

Simpulan

  1. Markus 6:9 tidak berkontradiksi dengan Matius 10:9-10.
  2. Kasut boleh dipakai tapi jangan dibawa.
  3. Makna simbolik kasut dalam Markus 6:9 dan Matius 10:9-10 adalah bahwa kerelaan hati hendaknya dipakai sebagai kasut untuk menda’wahkan Injil.

Kata kunci: bolehkah membawa kasut dalam perjalanan, makna simbolik kasut