Tag Archives: Almasih raja dunia-akhirat

Tahukah Yohanes Pembabtis bahwa Isa adalah Al-Masih?

Tema: Nabi Yohanes Sang Pembabtis tabayyun kepada Nabi Isa Al-Masih Kalamullah

Tanya

Dari Matius 3:11-14 dan Yohanes 1:31-34 dapat diketahui bahwa Yohanes Pembabtis tahu benar identitas Isa sebagai seorang Al Masih (Mesias). Tetapi dari Matius 11:2-3 dan Lukas 7:19-20, Yohanes Pembabtis mengirim murid-muridnya untuk menanyakan apakah Isa adalah seorang Al Masih (Mesias) atau bukan. Bagaimana ini?

Jawab

Pertanyaan Yohanes adalah pertanyaan tabayyun[ref]check, recheck, dan crosscheck untuk mencari kejelasan[/ref], bukan pertanyaan dari ketidaktahuan.

Silahkan Anda simak uraian berikut ini.

Di awal pelayanan Isa, Nabi Yohanes Sang Pembabtis alias Nabi Yahya Sang Pembabtis tidak ragu bahwa Isa adalah Al-Masih.

31  Sebelumnya aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi untuk itulah aku datang dan membabtis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israil.”
32  Yahya pun memberi kesaksian, katanya, “Aku telah melihat Ruh Allah turun dari surga seperti burung merpati dan berdiam di atas-Nya.
33  Sebelumnya aku sendiri pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang menyuruh aku supaya aku membabtis dengan air, telah bersabda kepadaku, ‘Apabila engkau melihat Ruh Allah turun ke atas seseorang dan berdiam di atas-Nya, Dia itulah yang akan membabtis dengan Ruh Allah Yang Mahasuci.’
34  Sekarang aku sudah melihat-Nya dan aku pun memberi kesaksian bahwa Dialah “Sang Anak” yang datang dari Allah.” (Yohanes 1:31-34)

 

11 Aku mempermandikan kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi setelah aku, akan datang orang yang lebih berkuasa daripadaku. Untuk membawa kasut-Nya saja pun aku tidak layak. Dia akan mempermandikan kamu dengan Ruh Allah Yang Mahasuci dan dengan api.
12 Alat penampi ada di tangan-Nya, dan Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya. Gandum akan dikumpulkan-Nya di lumbung, tetapi sekam akan dibakar-Nya dengan api yang tidak pernah padam.”
13 Kemudian datanglah Isa dari Galilea ke Sungai Yordan menemui Yahya untuk dipermandikan olehnya.
14 Tetapi Yahya berusaha menolak permintaan-Nya dengan berkata, “Seharusnya akulah yang dipermandikan, tetapi mengapa justru Engkau yang datang kepadaku?” (Matius 3:11-14)

Lama setelah peristiwa pembabtisan oleh Nabi Yohanes dan tidak lama sebelum syahid Nabi Yohanes, Nabi Yohanes Sang Pembabtis justru ragu benarkah Isa itu adalah Al Masih, karena Nabi Yohanes mendengar pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Isa Al-Masih. Untuk menjawab keraguannya, dia mengutus muridnya kepada Isa Al Masih untuk bertabayyun kepada Isa. Keraguan bahwa Isa itu adalah Al Masih tersirat dalam pertanyaan yang diajukan oleh para murid Yohanes itu “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

2  Di dalam penjara, Yahya mendengar segala sesuatu yang dilakukan oleh Al Masih. Lalu ia mengutus para pengikutnya
3  untuk bertanya kepada Isa, “Engkaukah yang akan datang itu, atau kami masih harus menunggu yang lain?” (Matius 11:2-3)

 

Ilustrasi Nabi Yahya Pembabtis dalam penjara

Ilustrasi Nabi Yahya Pembabtis dalam penjara

19 ia memanggil dua orang di antara mereka dan mengutus mereka kepada Isa, Sang Junjungan, untuk bertanya, “Engkaukah yang akan datang itu atau kami masih harus menunggu yang lain?”
20 Setelah kedua orang itu sampai kepada Isa, mereka berkata, “Yahya mengutus kami kepada Tuan untuk bertanya, ‘Engkaukah yang akan datang itu atau kami masih harus menunggu yang lain?’”(Lukas 7:19-20)

Keraguan Yohanes setelah mendengar kabar tentang pekerjaan Isa Al Masih itu karena dia, sebagaimana umumnya orang Israel, berpikir bahwa Al Masih adalah gelar bagi Raja Politik yang membangkitkan lagi Israil menjadi kerajaan politik seperti pada jaman Raja Daud dan Raja Sulaiman. Nabi Yohanes mengira bahwa Al-Masih adalah gelar bagi Raja Politik suatu gerakan zionisme politik.

Interpretasi Nabi Yohanes tersebut lantas dikoreksi oleh Isa Al Masih dengan menyatakan:

4  Sabda Isa kepada mereka, “Pergi dan beritahukanlah kepada Yahya segala sesuatu yang telah kamu dengar dan kamu lihat:
5  Orang buta dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan, orang kusta menjadi tahir karena sembuh, orang tuli dapat mendengar, orang mati dihidupkan kembali, dan Injil diberitakan kepada orang-orang miskin. (Matius 11:4-5)

 

22  Kemudian sabda Isa kepada utusan-utusan Yahya itu, “Pergi dan beritahukan kepada Yahya segala sesuatu yang telah kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir karena sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dihidupkan kembali, dan Injil diberitakan kepada orang-orang miskin. (Lukas 7:22)

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Al Masih adalah Raja yang lebih tinggi daripada raja politik.

  1. Raja politik tidak dapat mencelikkan mata orang buta hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  2. Raja politik tidak dapat membuat orang lumpuh jadi berjalan hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  3. Raja politik tidak dapat membuat menyembuhkan orang kusta hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  4. Raja politik tidak dapat membuat orang tuli jadi mendengar hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  5. Raja politik tidak dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati hanya dengan sepatah kata, sedangkan Raja Al Masih dapat
  6. Raja politik tidak dapat memberitakan kabar baik (Injil) kepada orang miskin, sedangkan Raja Al Masih dapat

Semua itu menunjukkan bahwa makna Raja yang terkandung dalam makna termonologis kata “Al Masih” itu lebih dari sekedar raja politik.

Dengan mengatakan hal tersebut kepada nabi Yohanes Pembabtis, Raja Isa Al Masih hendak memberitahukan bahwa Al Masih itu suatu jabatan yang lebih dari Raja Politik. Bila umat Israel hanya mengharapkan bahwa Al Masih itu hanyalah Raja Politik, maka harapan umat Israel terhadap Al Masih dari Allah itu terlalu rendah. Allah telah memberikan kekuasaan (otoritas) yang jauh lebih besar kepada Al Masih daripada kekuasaan yang Allah berikan kepada seorang Raja politik. Mengenai besarnya kekuasaan Al Masih, ada tertulis dalam Matius:

18 Isa Al Masih mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku (yaitu kepada Isa Al Masih) telah diberikan (oleh Allah) segala kuasa di akhirat dan di dunia. (Matius 28:18)

Dengan memberi jawab kepada Yohanes seperti yang dinyatakan dalam Lukas 7:22 dan Matius 11:4-5, Isa Al Masih menyatakan bahwa dirinya adalah Al Masih, seorang Raja yang dilantik oleh Allah dengan kekuasaan yang meliputi dunia-akhirat, hidup dan mati.

Kesimpulan

Pertanyaan Yohanes itu tidak menunjukkan ketidaktahuan Yohanes, melainkan menunjukkan bahwa Yohanes sempat ragu karena penafsiran zionisme politik yang umum dianut oleh orang Israel abad 1 Masehi terhadap sosok Al Masih (yaitu raja politik) ternyata berbeda dengan apa yang Isa Al Masih kerjakan. Berlawanan dengan tafsir ini, pekerjaan Isa Al-Masih menunjukkan bahwa Al-Masih bukanlah raja politik dalam tafsir zionisme politik, melainkan raja dunia-akhirat dalam pemahaman zionisme ruhaniah. Pernyataan Isa juga menunjukkan penolakan Isa terhadap interpretasi zionisme politik dan bahkan Isa memberikan interpretasi yang benar, yaitu zionisme spiritual, yang berlawanan dengan interpretasi zionisme politik.

Pertanyaan Yohanes adalah pertanyaan tabayyun[ref]check, recheck, dan crosscheck untuk mencari kejelasan[/ref], bukan pertanyaan dari ketidaktahuan.

 


Kata kunci: Isa Almasih dan Yohanes Pembabtis, Almasih bukan raja politik, Almasih raja dunia-akhirat, zionisme spiritual, zionisme ruhani, bukan zionisme politik, tabayyun dalam Injil