Yang wafat disalib adalah kodrat manusia Yesus

Tema: Posting ini mendiskusikan bahwa yang disalibkan dan wafat di tiang salib adalah kodrat manusianya Yesus (Jesus’ human nature). Kodrat ilahi Yesus tidak dapat dapat disalibkan, tidak dapat dibunuh, dan tidak dapat wafat.

Tanya

Tuhan sudah kehabisan akal untuk menebus dosa manusia, sehinga dia harus turun ke bumi dan mati di tiang salib demi untuk menebus dosa manusia. Sebegitu lemahnya kah tuhan itu sehingga ia harus mati untuk menebus dosa manusia? wkwkwkwk

Jawab

Untuk memahami hal ini, pertama-tama perlu paham kodrat ganda Yesus Kristus (Isa Al-Masih), yaitu bahwa Yesus berkodrat makhluk (pada ruh, jiwa, dan tubuhnya) dan sekaligus berkodrat Ilahi (pada hakikatNya). Pemahaman ini berasal dari syahadat bahwa Yesus Kristus alias Isa Al-Masih adalah Kalam Allah atau Firman Allah.

Perhatikan sebuah kitab Allah. Kitab Allah adalah Kalam Allah. Kalam Allah terdiri dari dua aspek, yaitu:

  1. Aspek yang bersifat baru. (pengucapan, perkataan, tata bahasa, jilid, huruf, susunan kata, susunan kalimat, dsb). Aspek ini berkodrat benda mati yang adalah makhluk (ciptaan). Dalam theologi umat Al-Masih Timur, ini disebut sebagai Kalam Huduth.
  2. Aspek yang sudah ada sejak kekekalan (Yohanes 1:1-3). Hakikat kitab Allah adalah Ilmu Allah. Ilmu Allah berkodrat Tuhan, sebab Ilmu Allah adalah hypostasis-Nya Allah atau shiffat Dzat-Nya Allah. Dalam theologi umat Al-Masih Timur, ini disebut sebagai Kalam Qadim.

Sebagaimana kitab Allah yang memiliki dua aspek, Yesus Kristus Sang Firman Allah juga memiliki dua aspek, yaitu:

  1. Aspek yang bersifat baru. (tubuh, jiwa, dan ruh, serta segenap kemanusiaannya Yesus). Aspek ini berkodrat manusia yang adalah makhluk (ciptaan). Dalam theologi umat Al-Masih Timur, ini disebut sebagai Kalam Huduth atau Kalam Baru.
  2. Aspek yang sudah ada sejak kekekalan (Yohanes 1:1-2). Hakikat Yesus adalah Ilmu Allah. Ilmu Allah berkodrat Tuhan, sebab Ilmu Allah adalah hypostasis-Nya Allah atau shiffat Dzat-Nya Allah. Dalam theologi umat Al-Masih Timur, ini disebut sebagai Kalam Qodim atau Kalam Tak Berawal.

Yang wafat disalib adalah kodrat manusia Yesus Kristus sebagai Kalam Huduth (poin 1), bukan kodrat Ilahi Yesus Kristus sebagai Kalam Qodim (poin 2). Membunuh kodrat manusia Yesus itu dapat dianalogikan dengan menancapkan sebuah pisau pada kitab Allah. Sekalipun kitab Allah itu ditusuk pisau, namun hakikat kitab Allah itu, yaitu Ilmu Allah, tidak dapat ditusuk.

 

Menikam kitab Allah tidak berarti menikam hakikat kitab Allah (Ilmu Allah). Membunuh kodrat manusia Yesus tidak berarti membunuh hakikat Yesus (Ilmu Allah)

Menikam kitab Allah tidak berarti menikam hakikat kitab Allah (Ilmu Allah). Membunuh kodrat manusia Yesus tidak berarti membunuh hakikat Yesus (Ilmu Allah)

Dalam makna hurufiah, tidak ada orang yang dapat menusuk hakikat Yesus yang adalah Ilmu Ilahi Allah. Sungguh keliru bila mengira yang disalibkan adalah aspek hakikat Yesus yang adalah Ilmu Ilahi Allah. wkwkwkwk :wkwkwk:

Jadi, pertanyaan Anda berikut ini “Sebegitu lemahnya kah tuhan itu sehingga ia harus mati untuk menebus dosa manusia?” disebabkan salah memahami Injil. Kesalahan bukan pada Injil, melainkan pada pemahaman Anda.


Kata kunci: Allah, Yesus, Kristus, Kalam, Ilmu, Isa, Al-Masih, kodrat manusia Yesus

7 thoughts on “Yang wafat disalib adalah kodrat manusia Yesus

  1. ngemeng2…

    SURAH 4 (AN NISAA): 157-158
    1. Orang lain yang diserupakan seperti Isa
    2. Orang Yahudi tidak mempunyai keyakinan yang pasti tentang siapa yang dibunuh kecuali prasangka
    3. Yang banar bahwa Allah telah mengangkat Isa

    = Isa sama sekali tidak disalib namun orang lain yang diserupakan.=

    anda mau nge-bantah ini…..

    1. :) Baca lebih teliti, insya Allah, dengan taufiq dan hidayahNya, Anda akan melihat apa yang kami lihat. Insya Allah… jika Allah menghendakinya.

      Jika tidak, maka Anda akan tetap berada pada pengertian yang sekarang Anda ikuti.

    1. Saya kasih clue deh….

      Dalam Al Qur'an terjemahan bahasa Indonesia, subyek ditafsirkan manusia, sehingga subyek diterjemahkan "dia".

      Dalam Al Qur'an terjemahan bahasa Inggris (Yusuf Ali, Pichtal, Munir) subyek ditafsirkan peristiwa, sehingga subyek diterjemahkan "it" (hal itu).

      Jika ditafsirkan "dia", memang tidak akan nyambung sama sekali dengan Injil. Mungkin karena itulah terjemahan bahasa Indonesia sengaja memilih kata "dia" agar tidak ketemu titik temunya dengan Injil.

      Jika ditafsirkan "hal itu" (peristiwa), maka akan ketemu titik temu Al Qur'an dan Injil. Jadi yang mengimani Injil dan Al Qur'an adalah firman Allah akan cenderung menggunakan terjemahan "it" (hal itu), seperti dalam terjemahan-terjemahan Al Qur'an dalam bahasa Inggris (Yusuf Ali, Pichtal, Munir), sedangkan yang tidak mengimani Injil sebagai firman Allah akan cenderung mengatakan bahwa terjemahan yang benar adalah "dia" (he).

      Saya memegang terjemahan yang "it" (hal itu) sebagaimana yang dituliskan dalam 3 terjemahan Al Qur'an bahasa Inggris tersebut. Itulah sebabnya Injil dan al Qur'an jadi nyambung perihal Isa Al-Masih. Tapi bila Anda memilih memegang terjemahan yang "he" (dia), maka itu diserahkan pada Anda.

    1. Maaf, saya tidak liberal dan saya tidak menggunakan tolok ukur bahasa Inggris. Itu sekedar clue saja. Saya tidak akan menjabarkan bagaimana titik temunya dengan Injil, biarlah Allah Sang Pemberi Hidayah saja yang menunjukkan titik temu itu kepada Anda.

      Saya hanya menunjukkan clue bahwa Kisah Isa Al-Masih dalam Injil dan Al Qur'an sejatinya tidak kontra. Tidak selayaknya kitab-kitab tersebut "diadudomba" manusia, seperti yang marak kita lihat di internet.

      Pemahaman lengkapnya, biarlah Allah yang memberikan taufiq dan hidayahNya pada Anda. Sedangkan masalah percaya atau tidak, itu urusan Anda dengan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>